PURWODADI | Hamparan hijau kebun alpukat di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, kini tak lagi sekadar lanskap pertanian. Di balik rimbunnya daun dan buah yang menggantung lebat, tumbuh sebuah cerita tentang kerja keras petani, peluang wisata, dan masa depan ekonomi desa.
Tiga desa di wilayah ini dikenal sebagai sentra utama alpukat berkualitas. Salah satunya Desa Pucangsari, tempat Budi Rahman merawat sekitar 250 pohon alpukat yang tengah memasuki musim berbuah. Uniknya, mayoritas pohon tersebut berasal dari varietas impor yang kini justru tumbuh subur di tanah Purwodadi.
“Sekitar 75 persen alpukat impor, seperti miki, kuba, markus, hawai, aligator, sampai alpukat mentega. Lokal ada, tapi memang tidak banyak,” kata Budi, Selasa (3/2/2026).
Bagi Budi, kebun alpukat bukan sekadar ladang produksi. Ia adalah hasil dari proses panjang—mulai dari memilih bibit unggul, menjaga kesesuaian lahan, hingga disiplin perawatan. Usaha itu berbuah manis. Satu pohon mampu menghasilkan 2 hingga 5 kuintal alpukat dalam sekali panen.
“Kalau perawatannya konsisten, usia 3–4 tahun sudah mulai berbuah. Tapi rata-rata umur 5 tahun, hasilnya sudah maksimal,” ujarnya.
Saat ini, Purwodadi masih berada di fase panen apit, belum memasuki puncak panen raya. Kondisi tersebut membuat harga alpukat tetap stabil di level menguntungkan. Alpukat lokal dijual Rp20–25 ribu per kilogram, sedangkan varietas impor bisa mencapai Rp35 ribu per kilogram.
Permintaan pasar pun terus mengalir. Dari Malang, Batu, Sidoarjo, hingga Kalimantan, alpukat Purwodadi menjadi komoditas yang dicari. Bahkan, dalam satu periode, pengiriman ke Kalimantan Timur pernah menembus 10 ton.
Melihat potensi besar ini, Pemerintah Kecamatan Purwodadi mulai melangkah lebih jauh. Wisata petik alpukat dikembangkan sebagai daya tarik baru, memadukan pengalaman edukasi, rekreasi, dan pertanian. Identitas kawasan ditegaskan melalui tugu bertuliskan “Kampung Alpukat” yang berdiri di desa-desa penghasil utama.
Camat Purwodadi, Sugiharto, menilai alpukat telah menjadi ikon baru wilayahnya. Tak hanya menggerakkan ekonomi, buah ini juga dimanfaatkan untuk mendukung program kesehatan masyarakat.
Melalui gerakan Gema Kating (Gerakan Makan Alpukat Tingkatkan Gizi), alpukat diperkenalkan sebagai sumber gizi alami guna membantu mencegah stunting pada bayi dan balita.
“Ini bukan sekadar soal pertanian. Alpukat menjadi simbol bagaimana potensi lokal bisa diolah untuk kesejahteraan dan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Kini, Purwodadi tak hanya dikenal sebagai daerah penghasil alpukat. Ia sedang bertransformasi menjadi ruang belajar, ruang wisata, dan ruang harapan—tempat buah alpukat menjadi pengikat antara alam, ekonomi, dan masa depan generasi.








Komentar