JAKARTA | Tubuh manusia sejatinya tak pernah benar-benar diam. Ia selalu memberi sinyal—kadang halus, kadang keras—tentang apa yang sedang terjadi di dalamnya. Salah satu sinyal yang paling sering diabaikan adalah rasa lelah yang datang tanpa sebab jelas. Padahal, kelelahan semacam ini bisa menjadi alarm awal dari penyakit serius, termasuk kanker.
Kanker dikenal sebagai penyakit kronis mematikan yang tumbuh secara senyap. Sel-sel abnormal berkembang tanpa kendali, perlahan menggerogoti jaringan dan organ vital hingga kehilangan fungsinya. Tak heran, penyakit ini masih menjadi momok global.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sekitar 10 juta orang meninggal dunia akibat kanker pada tahun 2020. Angka ini menempatkan kanker sebagai salah satu penyebab kematian terbesar di dunia, dengan jenis kanker payudara, paru-paru, dan usus besar mendominasi kasus.
Meski kerap dikaitkan dengan benjolan atau nyeri hebat, kanker tidak selalu datang dengan tanda yang mencolok. Justru, pada banyak kasus, rasa lelah berkepanjangan menjadi keluhan awal yang paling sering dirasakan penderita.
Kelelahan pada pengidap kanker bukan sekadar capek biasa. Sensasinya digambarkan seperti kehilangan tenaga secara total—tubuh terasa lemah, pikiran ikut lesu, dan istirahat pun tak banyak membantu. Kondisi ini bisa muncul tanpa aktivitas berat dan berlangsung dalam waktu lama.
Secara medis, kelelahan ini terjadi karena tubuh bekerja ekstra keras melawan pertumbuhan sel kanker. Sistem imun dipaksa terus aktif, menguras energi yang seharusnya digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Di saat yang sama, sel kanker juga “bersaing” dengan sel normal dalam menyerap nutrisi.
Fenomena ini dikenal sebagai kondisi hipermetabolik, di mana tumor mengambil alih pasokan energi tubuh. Akibatnya, penderita sering mengalami penurunan berat badan, hilangnya nafsu makan, dan rasa lemah yang muncul tiba-tiba tanpa penjelasan logis.
Para ahli menekankan pentingnya kepekaan terhadap perubahan tubuh. Kelelahan memang bisa disebabkan banyak hal, namun jika terjadi terus-menerus, tanpa pemicu jelas, dan disertai gejala lain, pemeriksaan medis menjadi langkah bijak yang tidak boleh ditunda.
Karena pada akhirnya, tubuh selalu memberi peringatan. Tinggal apakah kita mau mendengarkannya—atau baru sadar saat semuanya sudah terlambat. (*)








Komentar