JAKARTA | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah menjadi langkah penting dalam memperbaiki kualitas gizi anak Indonesia. Namun, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa program tersebut bukan satu-satunya penopang tumbuh kembang anak. Peran orang tua tetap menjadi kunci utama.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengingatkan bahwa porsi makanan dari MBG hanya mencakup satu kali makan dalam sehari.
“MBG itu hanya satu porsi. Masih ada dua porsi lagi yang menjadi tanggung jawab orang tua di rumah,” ujar Maria, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, pemenuhan gizi anak tidak sekadar soal makan kenyang, tetapi juga tentang keberagaman menu dan kecukupan frekuensi makan. Anak membutuhkan asupan gizi seimbang agar dapat tumbuh optimal, baik secara fisik maupun mental.
Maria menjelaskan, Undang-Undang Kesehatan telah mengamanatkan bahwa pemenuhan dan perbaikan gizi adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan keluarga dan masyarakat.
“Pemenuhan gizi itu harus dilakukan bersama. Kalau gizinya sudah diberikan tapi berat badan anak tidak naik, berarti perlu perbaikan,” katanya.
Perbaikan gizi, lanjut Maria, dapat berupa penambahan porsi makan, variasi menu, hingga pemeriksaan kesehatan untuk memastikan tidak ada penyakit yang menghambat pertumbuhan anak. Karena itu, orang tua diminta aktif memantau kondisi anak melalui penimbangan dan pengukuran rutin.
Tak hanya anak, perhatian terhadap gizi ibu hamil juga menjadi sorotan. Maria mengungkapkan bahwa sekitar 75 persen pembentukan otak anak terjadi saat masih dalam kandungan.
“Kalau gizi ibu saat hamil tidak terpenuhi, pembentukan otak anak bisa terhambat. Padahal saat usia tiga tahun, volume otak sudah terbentuk,” jelasnya.
Data Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga menunjukkan tantangan serius. Sebanyak 10 persen anak usia dua tahun tercatat mengalami anemia. Angka ini meningkat pada usia sekolah, dengan 27 persen anak SMP kelas 1 dan SMA kelas 1 mengalami kondisi serupa.
“Satu dari tiga anak usia sekolah masih anemia. Ini PR besar kita bersama. Dengan MBG, kami berharap angka anemia bisa menurun, karena gizi yang baik akan membuat anak tumbuh sehat dan konsentrasi belajar meningkat,” pungkas Maria.
Melalui sinergi antara program pemerintah dan peran aktif keluarga, Kemenkes berharap kualitas generasi muda Indonesia dapat meningkat secara menyeluruh, dimulai dari meja makan di rumah. (*)










Komentar