Hutan Bambu Penglipuran: Nafas Hijau Warisan Leluhur di Jantung Pulau Dewata

BANGLI | Di Pulau Bali, bambu bukan sekadar tanaman. Ia adalah nadi kehidupan, penyangga tradisi, sekaligus penjaga keseimbangan alam. Dari batang bambu, masyarakat Bali menegakkan penjor yang menjulang anggun di hari-hari suci, merangkai anyaman tempat sesajen, hingga menopang patung ogoh-ogoh yang berparade menjelang Nyepi.

Nilai luhur bambu itu hidup dan terjaga ratusan tahun di Desa Adat Penglipuran, Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Berjarak sekitar 45 kilometer dari Denpasar, desa sejuk di kaki Gunung Batur ini menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu merawat alam tanpa merusaknya.

Di atas lahan seluas 112 hektare, warga Penglipuran menjaga 45 hektare hutan bambu di bagian utara desa sebagai aset tak ternilai. Bagi mereka, hutan bambu bukan hanya sumber bahan bangunan, tetapi juga penyeimbang ekosistem yang diwariskan oleh leluhur.

Batang-batang bambu dari hutan ini masih digunakan untuk membangun angkul-angkul, pawon, bale saka enem, hingga bale banjar. Bahkan, bambu Penglipuran kerap menjadi pilihan utama sebagai tiang penjor yang menghiasi pekarangan rumah warga saat upacara keagamaan.

Kesadaran menjaga hutan bambu ini sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, ajaran Hindu Bali tentang keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai ini tak hanya menjadi semboyan, tetapi dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari warga desa.

Tak heran, Penglipuran dikenal luas sebagai desa yang bersih dan lestari. Pada 2016, majalah internasional Boombastic bahkan menobatkannya sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Namun, daya tarik Penglipuran tak berhenti pada kerapian lingkungan semata.

Wisatawan yang berkunjung juga dapat menyusuri hutan bambu yang asri dan bebas sampah, baik dengan berjalan kaki maupun bersepeda. Jalur trekking sepanjang dua kilometer mengelilingi kawasan hutan, menghadirkan pengalaman menenangkan di tengah gemerisik dedaunan dan gesekan batang bambu yang menciptakan harmoni alami.

Sinar matahari yang menembus celah-celah rumpun bambu membentuk siluet indah, menjadikan kawasan ini favorit untuk fotografi, termasuk lokasi prewedding. Dalam satu jam perjalanan kaki, pengunjung dapat merasakan keteduhan sekaligus keheningan yang jarang ditemui di destinasi wisata lain.

Berdasarkan informasi di gerbang utama, terdapat 14 jenis bambu di kawasan ini, seperti bambu petung, jajang, dan tali untuk bahan bangunan, serta bambu ampel, tambang, hingga gading. Bambu Penglipuran dikenal sebagai salah satu kualitas terbaik di Pulau Dewata.

Awig-awig dan Alam yang Dijaga

Pegiat lingkungan setempat, Gede Yoga, menuturkan bahwa secara ekologis hutan bambu terbukti menjaga sumber air dan mencegah erosi tanah di wilayah berbukit. Menariknya, di dalam hutan bambu juga terdapat pura, namun tidak berbentuk bangunan megah.

“Mereka hanya menyimbolkan pura dengan bongkahan batu, seperti Pura Mpu Aji. Ini cara kami menghormati keseimbangan alam,” ujar Yoga.

Penebangan bambu pun diatur ketat melalui awig-awig atau hukum adat. Tidak semua hari boleh digunakan untuk memanen. Bendesa Adat Penglipuran, I Wayan Supat, menjelaskan bahwa penanggalan tradisional menjadi pedoman penting.

“Jika dipanen di hari yang tidak baik, bambu bisa mati. Misalnya saat wuku buku, tidak cocok memanen tanaman berbuku seperti bambu,” jelasnya.

Pengetahuan turun-temurun juga mengatur musim panen. Musim hujan dianggap kurang tepat karena kandungan air pada rebung terlalu tinggi. Warga juga diajarkan memilih rumpun yang layak ditebang agar regenerasi tetap terjaga.

Meski sebagian lahan tercatat atas nama warga, kawasan hutan bambu tetap menyatu tanpa sekat kepemilikan. Pemanfaatannya mengedepankan kepentingan ekologis dan sosial. Warga yang membutuhkan bambu untuk renovasi rumah atau keperluan upacara dapat memanennya secara gratis, dengan izin desa adat.

Upaya kolektif menjaga warisan hijau ini berbuah manis. Pada 1995, masyarakat Penglipuran dianugerahi Penghargaan Kalpataru oleh pemerintah atas dedikasi mereka dalam melindungi dan melestarikan ekosistem hutan bambu.

Di tengah laju modernisasi, Penglipuran berdiri sebagai pengingat: ketika adat, alam, dan manusia berjalan seiring, keberlanjutan bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang hidup dan mengakar. (*)

Komentar

News Feed