JAKARTA | Sulit tidur atau insomnia mungkin sudah akrab di telinga banyak orang. Namun, ada satu gangguan tidur yang kerap luput disadari, yakni late insomnia kondisi ketika seseorang terbangun terlalu pagi atau dini hari dan tak mampu terlelap kembali, meski tubuh masih terasa lelah.
Dokter spesialis tidur Angela Holliday-Bell menjelaskan, late insomnia terjadi saat seseorang terbangun lebih awal dari waktu yang diinginkan dan gagal kembali tidur. Kondisi ini sering membuat penderitanya bangun dalam keadaan tidak segar dan kurang bertenaga.
“Late insomnia atau terbangun dini hari adalah saat Anda bangun lebih awal dari yang direncanakan dan tidak bisa tidur lagi, walaupun tubuh masih membutuhkan istirahat,” ujar Holliday-Bell, dikutip dari HuffPost.
Meski bukan diagnosis medis resmi, ahli saraf tidur Meredith Broderick menyebut late insomnia sebagai pola gangguan tidur yang cukup jelas. Menurutnya, kondisi ini ditandai dengan terbangun spontan sekitar 1,5 hingga 2 jam lebih awal dari jadwal bangun normal.
“Jika hanya terjadi sesekali, itu masih wajar. Namun, bila terjadi setidaknya tiga kali seminggu selama tiga bulan berturut-turut, maka kondisi tersebut dapat disebut sebagai late insomnia,” jelas Broderick.
Berbagai faktor diketahui dapat memicu munculnya late insomnia. Salah satunya adalah perubahan ritme sirkadian seiring bertambahnya usia. Pola jam biologis tubuh yang bergeser membuat seseorang lebih cepat mengantuk di malam hari dan terbangun lebih awal di pagi hari. Selain itu, produksi hormon melatonin yang berperan penting dalam kualitas tidur juga cenderung menurun seiring usia.
Faktor hormonal turut berperan, terutama pada perempuan yang memasuki masa perimenopause dan menopause. Penurunan kadar estrogen dan progesteron dapat memengaruhi pusat tidur di otak serta mengganggu ritme sirkadian.
“Kadar estrogen yang lebih rendah membuat tidur menjadi lebih ringan dan mudah terbangun,” kata Holliday-Bell. Kondisi seperti keringat malam dan hot flashes juga kerap membangunkan wanita menopause di dini hari dan menyulitkan mereka untuk tidur kembali.
Tak hanya faktor fisik, kesehatan mental juga berperan besar. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa late insomnia kerap berkaitan dengan depresi dan gangguan kecemasan. Pada penderita depresi, perubahan ritme sirkadian dan peningkatan hormon kortisol di pagi hari dapat memicu terbangun lebih awal dari biasanya.
Tidur berkualitas merupakan fondasi penting bagi kesehatan fisik dan mental. Karena itu, mengenali penyebab sering terbangun dini hari menjadi langkah awal untuk memperbaiki pola tidur dan menjaga kualitas hidup tetap optimal. (*)








Komentar