BOJONEGORO | Langkah Bojonegoro menuju panggung geopark dunia kian menemukan ritmenya. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggelar Forum Sarasehan Persiapan Geopark Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark (UGGp) sebagai ruang konsolidasi sekaligus penguatan filosofi geopark, dengan menghadirkan pakar internasional Vice President of UNESCO UGGp, Prof. Ibrahim Komoo.
Sarasehan yang berlangsung di Hotel Aston Bojonegoro ini diikuti beragam elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, pelaku UMKM, siswa, hingga perwakilan komunitas. Kehadiran lintas kelompok ini menegaskan bahwa geopark bukan proyek elite, melainkan gerakan bersama yang tumbuh dari partisipasi publik.
Seperti disampaikan dalam siaran tertulis Pemkab Bojonegoro, Selasa (20/1/2026), Prof. Ibrahim Komoo menegaskan bahwa geopark yang ideal harus dibangun di atas tiga pilar utama yang terintegrasi, yakni heritage conservation (pelestarian warisan), community development (pembangunan masyarakat), dan economic development (pengembangan ekonomi).
Menurutnya, geopark tidak bisa dipersempit hanya sebagai destinasi wisata geologi. Lebih dari itu, geopark merupakan sebuah sistem yang menjaga warisan geologi bernilai internasional sekaligus menghadirkan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.
Dalam konteks menuju pengakuan UNESCO, Prof. Ibrahim menekankan pentingnya perencanaan yang matang dan konsisten, penguatan jejaring strategis dengan geopark yang telah berstatus UGGp, serta pemeliharaan warisan geologi sebagai fondasi utama yang tak boleh diabaikan.
Ia juga memaparkan sejumlah indikator penting dalam proses evaluasi UNESCO, di antaranya status geopark secara de facto, nilai geological heritage, keberadaan badan pengelola yang fungsional, pendekatan bottom-up yang didukung masyarakat lokal, hingga potensi pengembangan ekonomi dan keberlanjutan kawasan.
Sementara itu, Pakar Pendidikan Prof. Norzaini Azman menggarisbawahi dimensi pendidikan dan peran perempuan dalam penguatan geopark. Menurutnya, pendidikan sejak awal berfungsi untuk menganalisis kebutuhan, meningkatkan pengetahuan dan kesadaran, membangun keterampilan, serta mendorong perubahan sikap masyarakat agar sejalan dengan prinsip pelestarian.
“Pendidikan merupakan teras utama dalam falsafah geopark dan harus dipadukan dengan seluruh aspek pendukungnya,” ujarnya.
Prof. Norzaini juga menekankan pentingnya media informasi dan edukasi yang mudah dipahami masyarakat, seperti panel informasi di geosite, kunjungan edukatif siswa ke kawasan geopark, brosur edukasi, hingga papan informasi yang komunikatif. Tak kalah penting, perempuan dinilai memiliki peran strategis dalam sistem sosial geopark sebagai penjaga kelestarian, pendidik dalam keluarga, dan motor penggerak pembinaan komunitas.
Melalui forum sarasehan ini, Geopark Bojonegoro diharapkan semakin matang menghadapi proses penilaian UNESCO—bukan hanya dari sisi administratif, tetapi juga kuat secara filosofi, edukasi, dan keterlibatan masyarakat. Sebuah ikhtiar kolektif untuk menjadikan Bojonegoro sebagai geopark berkelas dunia yang berkelanjutan dan berpijak pada kekuatan lokal. (*)










Komentar