Sumba Barat Daya Deklarasikan Diri Menuju Destinasi Wisata Premium Lestari

SUMBA BARAT DAYA | Semilir angin bahari Desa Wisata Pero Konda menjadi saksi tekad besar Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, dalam menapaki jalur pariwisata kelas dunia. Momentum Hari Pariwisata Dunia, dimanfaatkan untuk menegaskan komitmen daerah ini menuju destinasi wisata premium dunia yang tangguh dan lestari.

Kegiatan yang digelar di kawasan Desa Wisata Bahari Pero Konda tersebut diinisiasi oleh Program Pengabdian Alumni (PANA) LPDP Kementerian Keuangan, bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pero Konda dan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya. Acara ini menjadi ruang temu gagasan antara pemerintah pusat, daerah, alumni LPDP, serta pemangku kepentingan pariwisata.

Hadir mewakili Menteri Pariwisata RI, Plt. Direktur Utama BPOLBF sekaligus Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Dwi Marhen Yono, S.STP., M.Si. Turut hadir pula perwakilan Kementerian Desa dan PDT, LPDP, Pegadaian, serta jajaran Forkopimda Sumba Barat Daya, termasuk Wakil Bupati, Dandim, dan DPRD.

Dalam forum tersebut, disepakati bahwa Sumba Barat Daya memiliki modal kuat untuk menjadi destinasi wisata premium, asalkan dibarengi pembenahan menyeluruh. Mulai dari pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur, kelembagaan, tata kelola destinasi, promosi, hingga penguatan event pariwisata menjadi fokus utama. Langkah ini dipandang strategis untuk menarik wisatawan mancanegara yang selama ini terpusat di Bali dan Labuan Bajo.

Kepala Divisi Alumni LPDP Kementerian Keuangan, Agam, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan potensi pariwisata Sumba Barat Daya ke panggung yang lebih luas, khususnya Desa Wisata Bahari Pero Konda.

“Kami berharap Pero Konda semakin dikenal dunia, tidak hanya NIHI Sumba Resort yang selama ini menjadi ikon internasional,” ujar Agam, Selasa (30/9/2025).

Program PANA LPDP sendiri merupakan wujud pengabdian para alumni beasiswa kepada masyarakat di daerah tertinggal. Pada tahun 2025, Sumba Barat Daya menjadi fokus utama, dengan 26 alumni LPDP mengabdi selama enam bulan di empat desa untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat.

Sementara itu, Dwi Marhen Yono memberikan apresiasi atas kolaborasi lintas sektor yang terbangun. Ia menilai kegiatan ini mampu menumbuhkan optimisme baru bagi pelaku pariwisata, desa wisata, serta unsur pentahelix untuk terus berinovasi demi menghadirkan pengalaman wisata yang nyaman dan berkesan.

Apresiasi juga disampaikan Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Rangga Kaka, yang berharap pembangunan pariwisata di daerahnya mampu menjadi pintu masuk pengenalan Indonesia ke dunia internasional.

“Pariwisata harus dibangun secara berkualitas dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat lokal,” tegasnya.

Dengan semangat kolaborasi dan visi berkelanjutan, Sumba Barat Daya kini menatap masa depan pariwisata bukan sekadar sebagai tujuan liburan, melainkan etalase keindahan Indonesia Timur di mata dunia. (*)

Komentar

News Feed