TEMANGGUNG | Pemandangan hangat tersaji di Dusun Krecek, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jumat (16/1/2026). Warga dari latar belakang Islam, Buddha, dan Katolik duduk melingkar di atas tikar yang sama, menyantap hidangan sederhana dalam balutan tradisi Nyadran Perdamaian.
Tak ada sekat keyakinan, tak ada perbedaan yang dipertajam. Yang hadir hanya senyum, sapaan akrab, dan rasa syukur yang dibagi bersama. Tradisi turun-temurun ini telah lama menjadi penanda bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling menghormati.
Nyadran Perdamaian bukan sekadar ritual budaya, melainkan ruang perjumpaan lintas iman yang dirawat dengan kesadaran kolektif. Setiap sajian yang disantap bersama menjadi simbol persaudaraan, sementara doa-doa yang dipanjatkan mengalir dalam satu tujuan: menjaga kedamaian kampung.
Di tengah dinamika kehidupan modern yang kerap diwarnai perbedaan tajam, masyarakat Krecek memilih jalan sunyi—merawat toleransi melalui tradisi. Mereka membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menjadi benteng kokoh persatuan.
Nyadran Perdamaian pun menjadi pengingat sederhana namun kuat: ketika manusia mau duduk bersama, perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan jembatan untuk saling memahami. (*)







Komentar