Rujak Bebek: Pedas, Hitam, dan Melegenda dari Pesisir Jawa Barat

JAKARTA | Tak semua kuliner berani tampil apa adanya. Rujak bebek adalah salah satunya. Dengan sambal hitam pekat, aroma khas, dan sensasi pedas yang menampar lidah, rujak bebek tetap bertahan sebagai kuliner legendaris yang dicintai tanpa perlu berdandan modern.

Berbeda dari rujak pada umumnya, rujak bebek menggunakan bebek goreng yang dipotong kecil, lalu disiram sambal kental berbahan petis, gula merah, cabai, bawang, dan rempah pilihan. Sekilas tampilannya sederhana, namun sekali dicicipi, rasanya sulit dilupakan.

“Yang dicari dari rujak bebek itu bukan cuma pedasnya, tapi rasa petis yang dalam dan gurihnya bebek,” kata Sadi (52), penjual rujak bebek yang telah berjualan lebih dari dua dekade di wilayah pesisir Indramayu.

Kuliner ini kerap ditemukan di daerah pantura Jawa Barat, khususnya Indramayu dan Cirebon. Keberadaannya sering tersembunyi di sudut pasar atau pinggir jalan, tetapi justru di situlah keistimewaannya. Tak jarang, pelanggan harus rela mengantre demi seporsi rujak bebek hangat yang disajikan dadakan.

Di tengah maraknya makanan kekinian, rujak bebek tetap berdiri tegak sebagai simbol keberanian rasa. Tidak semua lidah sanggup, namun bagi penggemarnya, rujak bebek adalah candu. Pedasnya tidak sekadar menyengat, melainkan membangunkan kenangan.

Kini, sejumlah pelaku UMKM mulai mengemas rujak bebek sebagai identitas kuliner daerah. Tanpa mengubah resep turun-temurun, mereka menambahkan sentuhan higienitas dan kemasan modern agar bisa dinikmati lintas generasi.

Rujak bebek bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita tentang pesisir, tentang petis yang pekat, tentang lidah yang jujur, dan tentang tradisi yang menolak dilupakan. Selama cobek masih beradu dengan ulekan, rujak bebek akan tetap hidup pedas, hitam, dan melegenda. (*)

Komentar

News Feed