JAKARTA | Di saat anak-anak masa kini lebih akrab dengan layar gawai, permainan tradisional main karet perlahan kembali mencuri perhatian. Permainan sederhana yang pernah mewarnai masa kecil generasi 80–90-an ini kini mulai dihidupkan kembali sebagai upaya menjaga warisan budaya sekaligus menghadirkan ruang bermain yang lebih humanis.
Main karet atau dikenal juga sebagai yeye mengandalkan tali panjang dari anyaman karet gelang. Anak-anak harus melompati tali yang ketinggiannya terus bertambah, dari sebatas lutut hingga setinggi kepala. Kesederhanaannya justru menjadi daya tarik utama, karena permainan ini menumbuhkan keberanian, kerja sama, dan kebersamaan.
“Dulu main karet itu soal kebersamaan, bukan kompetisi,” ujar Irma (40), warga Bandung yang masih menyimpan tali karet masa kecilnya. Ia berharap permainan tersebut bisa kembali dikenal anak-anak saat ini agar mereka tak sepenuhnya bergantung pada teknologi.
Upaya pelestarian pun mulai terlihat. Sejumlah sekolah dan komunitas budaya menghadirkan lomba permainan tradisional, termasuk main karet, dalam berbagai kegiatan edukatif dan festival daerah. Selain mengenalkan budaya, kegiatan ini juga dinilai mampu melatih motorik dan interaksi sosial anak.
Pemerhati budaya menilai main karet bukan sekadar permainan, melainkan sarana pembelajaran nilai-nilai kehidupan. Anak-anak belajar sportif, saling menyemangati, dan menikmati kebahagiaan tanpa fasilitas mahal.
Di tengah laju zaman yang kian cepat, main karet hadir sebagai pengingat bahwa kebahagiaan bisa sesederhana melompat bersama, tertawa bersama, dan tumbuh bersama. Permainan kecil dengan makna besar yang layak terus dilestarikan dari generasi ke generasi.(*)






Komentar