LAMPUNG BARAT | Dengan guratan motif tegas dan warna-warna yang seperti berdenyut dari masa silam kembali menegaskan dirinya sebagai mahakarya budaya Lampung Barat.
Celugam bukan sekadar lembaran kain. Ia adalah ingatan kolektif masyarakat Lampung Barat. Tiap potongan motifnya mengandung kisah, tiap warnanya adalah petunjuk arah sejarah.
Dalam tradisi adat, celugam pernah menjadi alas martabat membentang di bawah tokoh adat saat digelarnya upacara penting. Bahkan, singgasana Kerajaan Sekala Brak yang termasyhur, pudak palsu, selalu dihias dengan bentangan celugam bersegitiga yang memadukan merah, oranye, hitam, dan putih; masing-masing warna menyimpan makna hierarki dan nilai spiritual.
Dalam sebuah acara doa dan zikir di Lambaro Skep, Pj Wali Kota Banda Aceh, Amiruddin, kembali mengingatkan bahwa celugam adalah jantung budaya yang berdenyut dalam banyak sisi kehidupan masyarakat Lampung Barat sejak ratusan tahun lalu. “Celugam bukan hanya kain ia bagian dari roh masyarakat,” ungkapnya.
Seiring perkembangan zaman, kreativitas masyarakat Lampung Barat menjadikan celugam semakin dekat dengan kehidupan modern. Kini motifnya tampil dalam sarung bantal, taplak meja, tatakan gelas, tas, hingga busana yang digandrungi wisatawan dan penikmat seni kain tradisional.
Pemerintah menyadari betapa berharganya identitas ini. Melalui hak paten yang kini resmi dikantongi, celugam bukan hanya dilindungi, tetapi juga dipersiapkan untuk makin dikenal di tingkat nasional hingga internasional. Langkah ini sekaligus memastikan generasi muda mengenal akar budaya mereka sendiri.
Celugam telah melewati perjalanan panjang dari ruang upacara adat hingga menjadi produk kreatif masa kini. Namun satu hal tak berubah: ia tetap menjadi kebanggaan Lampung Barat kain yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kaya makna dan martabat.
Penulis : Anton Setiawan
Redaktur : Achmad










Komentar