YOGYAKARTA | Sebuah gerakan besar kembali dinyalakan dari jantung budaya Indonesia. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat PAUD resmi membuka Kampanye Anak Indonesia Sehat Tahap ke-5 di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) D.I. Yogyakarta, Jumat (21/11). Lebih dari 330 peserta hadir, membawa semangat yang sama: menyiapkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat menuju Generasi Emas Indonesia 2045.
Di hadapan peserta, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, M. Muchlas Rowi, menyalakan semangat lewat pesan lugasnya.
“Kampanye Anak Indonesia Hebat adalah ikhtiar bersama untuk menumbuhkan anak-anak yang sehat, kuat, dan siap menjadi tumpuan masa depan bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang kini menjadi “bekal wajib” bagi generasi muda: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cukup.
Sementara itu, Direktur PAUD Nia Nurhasanah menyampaikan bahwa Yogyakarta dipilih sebagai lokus kelima dari tujuh rangkaian kampanye nasional. Program ini merupakan wajah nyata dari strategi Partisipasi Semesta, yang merangkul pemerintah daerah, BPD DIY, hingga Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI).
“Program ini adalah langkah konkret untuk memastikan pendidikan karakter benar-benar hadir, dirasakan, dan dipraktikkan sejak usia dini,” ungkap Nia.
Pemkab Sleman, sebagai tuan rumah, menyambut kehadiran kampanye ini dengan tangan terbuka. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sleman, Agung Armawanta, menjelaskan berbagai dukungan pemerintah, mulai dari pembiayaan pendidikan keluarga kurang mampu hingga rencana memberikan laptop bagi PAUD.
“Investasi di usia dini adalah investasi masa depan,” tegasnya.
Selain kampanye kebiasaan sehat, lokakarya bagi guru dan orang tua juga memasukkan materi literasi finansial, dipandu Ketua Tim Kerja Peserta Didik Direktorat PAUD, Soripada Harahap. Ia menegaskan bahwa anak perlu diperkenalkan pada konsep menabung, berhemat, dan memahami nilai uang sebagai fondasi karakter yang bertanggung jawab.
Suasana kampanye menjadi semakin meriah berkat KPOTI yang membawa ragam permainan tradisional seperti bekel, gasing, patheng dudu, dan engklek. Anak-anak antusias mencoba, tertawa, dan bersosialisasi dengan teman baru.
Sri Rustianti, guru dari TK Annur III Gondangan, menilai permainan tradisional sangat tepat untuk mengasah kreativitas dan keberanian anak. Ia menuturkan bahwa murid-muridnya bahkan sudah terbiasa melakukan Senam Anak Indonesia Hebat, dan baru saja meraih juara 1 lomba senam kategori TK.
Salah satu murid, Kala (5 tahun), tampak berseri-seri saat bermain patheng dudu. “Seru! Senang!” katanya polos namun penuh antusiasme, sembari menumpuk balok balok kecil yang berdiri tegak.
Program ini bukan sekadar kampanye, tetapi bentuk nyata dari keseriusan Kemendikdasmen dalam memperkuat pondasi pendidikan anak usia dini.
“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak tumbuh dalam suasana belajar yang menyenangkan, bermakna, dan memberi dampak,” tutup Nia.
Dengan Yogyakarta sebagai saksi, obor kecil pembentuk Generasi Emas kembali dinyalakan dari ruang-ruang PAUD, dari permainan tradisional, dari kebiasaan kecil yang konsisten yang kelak membentuk Indonesia yang lebih kuat, lebih sehat, dan lebih hebat. (*)










Komentar