Ubi Banggai: Warisan Leluhur dari Tanah Laut dan Gunung di Ujung Sulawesi

BANGGAI | Di ujung timur Sulawesi Tengah, di antara hamparan laut biru dan gugusan pulau memesona, berdiri sebuah kabupaten kecil yang menyimpan kisah besar  Banggai Kepulauan. Selama ini daerah itu dikenal karena pantai dan terumbu karangnya yang menakjubkan. Namun di balik pesona lautnya, Banggai menyimpan harta karun lain yang tumbuh di tanah: ubi banggai  umbi langka yang menjadi nadi kehidupan masyarakatnya.

Bagi penduduk Bangkep, ubi banggai bukan sekadar bahan pangan  ia adalah bagian dari identitas dan sejarah panjang peradaban mereka. Sejak masa kerajaan, tanaman ini telah menjadi makanan pokok sekaligus simbol keberkahan. Konon, jenis umbi ini dibawa oleh keluarga Raja Ternate yang bermigrasi ke Banggai ratusan tahun silam. Tanah lempung berpasir di Pulau Peling dan Tomini menjadikannya tumbuh subur, menjalar ke langit dengan batang yang melilit cabang-cabang kayu hutan.

Wujudnya sekilas mirip ubi jalar, rasanya seperti percampuran singkong dan ubi manis  lembut namun padat. Ukurannya besar, bisa direbus, digoreng, bahkan diolah menjadi tepung untuk membuat kue tradisional khas Banggai, payot, yang biasa hadir dalam upacara adat.

Di masa lampau, masyarakat menanamnya dengan penuh penghormatan melalui ritual Bapidok  upacara penanaman yang sarat makna spiritual. Hasil panen tak langsung dijual, tapi dikonsumsi bersama keluarga. Hanya kelebihannya yang dibawa ke pasar tradisional di Luwuk, Mendono, hingga Buwon.

Penelitian Purnomo dari Fakultas Biologi UGM (2010) mencatat bahwa Dioscorea sp., atau ubi banggai, adalah sumber karbohidrat utama bagi masyarakat suku Banggai, Saloan, dan Balantak. Di antara berbagai jenis umbi lain seperti opa, gadung, dan ubi hutan, hanya ubi banggai yang menjadi makanan pokok  sisanya digunakan untuk sayuran atau pengobatan tradisional.

Secara morfologi, ubi banggai memiliki keunikan tersendiri. Daunnya kecil, batangnya ramping, dan umbinya halus serta padat. Dari bentuknya yang sederhana, tersimpan filosofi mendalam: tumbuh dalam diam, tapi memberi kehidupan bagi banyak orang.

Kini, meski zaman terus berubah, masyarakat Banggai Kepulauan masih menjaga warisan ini. Ubi banggai tetap ditanam, diolah, dan dirayakan  bukan sekadar pangan, tapi warisan budaya yang mengikat manusia dengan alam dan sejarahnya. (*)

Komentar

News Feed