JAKARTA | Dunia komunikasi terus berputar seiring zaman. Jika dulu manusia bergantung pada surat kawat, merpati pos, atau radio sebagai jembatan jarak dan waktu, kini semuanya tergantikan oleh layar sentuh dan sinyal internet. Modernisasi menghadirkan kemudahan, namun juga meninggalkan jejak sejarah yang nyaris terlupakan.
Berikut lima alat komunikasi yang kini nyaris punah, namun pernah berjaya menghubungkan dunia.
1. Telegram, Sang Pelopor Pesan Cepat
Sebelum ada WhatsApp atau e-mail, dunia pernah mengenal telegramalat pengirim pesan jarak jauh berbasis kode Morse yang diciptakan oleh Samuel Thomas von Sommering pada 1809.
Lewat bunyi “tit-tit” khasnya, pesan dikirim melintasi kota, bahkan benua. Namun kini, telegram tinggal sejarah, tergantikan oleh faksimile dan akhirnya oleh ponsel pintar yang bisa mengirim pesan dalam hitungan detik.
2. Bis Surat, Kotak Klasik Sang Pengantar Rindu
Kotak surat berwarna merah-oranye dulu mudah ditemukan di pinggir jalan. Dari sanalah surat-surat berisi kabar, cinta, dan doa dikirim melintasi jarak. Namun sejak hadirnya e-mail dan pesan instan, bis surat semakin sepi. Kini, keberadaannya lebih banyak jadi ikon nostalgia di depan kantor pos atau sekadar latar foto bagi pemburu kenangan.
3. Merpati Pos, Utusan Langit Zaman Dahulu
Sebelum ada jaringan internet, langit pernah menjadi jalur komunikasi. Merpati pos dilatih membawa pesan puluhan kilometer dan hampir tak pernah tersesat. Burung ini menjadi simbol kepercayaan dan kesetiaan dalam menyampaikan kabar penting pada masa perang atau kerajaan kuno. Kini, merpati pos hanya tinggal legenda dalam buku sejarah dan lomba hobi.
4. Radio, Suara Dunia yang Mulai Redup
Radio pernah menjadi “jantung informasi” di setiap rumah. Dari siaran berita, musik, hingga drama radio, semuanya tersaji lewat gelombang suara. Meski kini sebagian masih bertahan lewat streaming dan frekuensi FM, radio tak lagi sepopuler dulu, tergeser oleh podcast, media sosial, dan platform digital yang lebih interaktif.
5. Mesin Fax, Sang Pengganda Dokumen Instan
Sebelum ada e-mail dan scanner, mesin fax adalah primadona kantor. Dengan suara khas “piiii… krkkk…”, dokumen dikirim melalui jaringan telepon dan diterima dalam bentuk salinan di tempat lain. Kini, faksimile hanya tersisa di beberapa kantor pemerintahan atau lembaga formal, sementara generasi muda bahkan nyaris tak mengenalnya. (*)







Komentar