SURABAYA | Sampah kertas masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Mulai dari brosur, koran, majalah, hingga dokumen perkantoran, sebagian besar berakhir di tempat sampah tanpa pernah masuk ke proses daur ulang. Padahal, penumpukan limbah kertas ini bisa memberi dampak serius bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan benar.
Kegelisahan itu justru melahirkan sebuah ide cemerlang dari Evelyn Widiana, mahasiswi Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya atau Petra Christian University (PCU). Evelyn menghadirkan inovasi baru berupa “Paper Pulse”, sebuah Textured Painting Kit berbahan limbah kertas yang memungkinkan masyarakat berkreasi sekaligus berlatih hidup ramah lingkungan.
“Penggunaan kertas sudah sangat umum, mulai dari kemasan makanan, brosur, majalah, hingga dokumen perkantoran. Sumbernya beragam, dari rumah tangga sampai percetakan. Kalau tidak dipilah, ini bisa berdampak buruk bagi lingkungan,” ujar Evelyn saat dikonfirmasi, Jumat (19/9/2025).
Dalam satu paket Paper Pulse, Evelyn menyediakan beragam alat melukis seperti kanvas, lem, pinset, hingga potongan kertas bekas yang diolah menjadi bahan utama penciptaan tekstur. Limbah kertas yang dipakai mayoritas berasal dari sisa percetakan, terutama jenis HVS dan art paper.
“Kalau HVS lebih mudah dipakai karena daya serapnya bagus. Koran dan majalah juga bisa, tapi kalau majalah terlalu berwarna justru bisa memengaruhi hasil akhir lukisan,” jelas Evelyn.
Menariknya, Evelyn juga mendesain sendiri template gambar pada kanvas yang tersedia dalam dua ukuran, yakni 15×15 cm dan 15×20 cm, agar pengguna memiliki variasi pilihan.
Target pasar produk ini adalah remaja hingga dewasa berusia 17–30 tahun. Namun, Evelyn menambahkan, anak-anak juga bisa mencoba asal didampingi orang tua. “Bisa jadi aktivitas bonding keluarga yang menyenangkan sekaligus edukatif,” tambahnya.
Nama Paper Pulse tidak dipilih sembarangan. Evelyn menjelaskan, paper melambangkan limbah kertas sebagai bahan dasar, sementara pulse berarti denyut nadi.
“Filosofinya, dengan melukis dari limbah kertas, orang bisa merasa tenang, lebih rileks, bahkan mengurangi stres. Jadi, bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga menyehatkan mental,” kata Evelyn.
Bagi Evelyn, Paper Pulse bukan sekadar produk kreatif, tapi juga media edukasi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah kertas.
“Masyarakat bisa jadi lebih aware terhadap sampah yang ada di sekitar. Dari hal sederhana seperti kertas saja bisa kita olah jadi karya, artinya semua orang bisa ikut berkontribusi menjaga lingkungan,” ujarnya.
Selain mengurangi limbah, Paper Pulse juga menawarkan manfaat ganda: sarana kreativitas sekaligus terapi menenangkan pikiran. Evelyn berharap inovasinya dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih peduli pada isu lingkungan melalui pendekatan kreatif.
“Harapan saya, karya ini bisa menginspirasi dan mengajarkan bahwa sesuatu yang dianggap sampah pun bisa punya nilai baru. Semua kembali pada bagaimana kita melihat peluang dari hal-hal kecil di sekitar kita,” pungkasnya. (*)






Komentar