Jakarta | PT Reasuransi Indonesia Utama (Indonesia Re) menyatakan siap menjadi pemimpin dalam proyek besar konsolidasi industri reasuransi BUMN. Inisiatif strategis ini diyakini bakal menciptakan kekuatan baru dalam sektor jasa keuangan nasional—yakni terbentuknya satu entitas reasuransi raksasa yang mampu menahan lebih banyak risiko di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada pasar luar.
Direktur Utama Indonesia Re, Benny Waworuntu, menegaskan bahwa proses konsolidasi ini sedang digodok dengan berbagai pemangku kepentingan, karena menyangkut banyak aspek sensitif—dari bisnis proses, teknologi, fokus usaha, hingga penyesuaian sumber daya manusia.
“Ini bukan sekadar pemindahan saham, tapi penyatuan sistem, kultur, dan arah bisnis. Jadi memang harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap,” ujar Benny saat membuka Indonesia Re International Conference (IIC) 2025, Selasa (22/7/2025), di Jakarta.
Tiga perusahaan reasuransi pelat merah yang menjadi sasaran konsolidasi adalah, Indonesia Re, PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure), anak usaha Pertamina, dan PT Reasuransi Nasional Indonesia (Nasre), cucu usaha IFG yang dimiliki 99% oleh PT Asuransi Kredit Indonesia.
Indonesia Re mengambil peran inisiatif untuk menyatukan ketiganya dalam ekosistem BUMN. Langkah ini pun didukung penuh oleh holding keuangan baru, Danantara Indonesia, yang akan menjadi mesin koordinasi sektor jasa keuangan BUMN.
“Kami ambil inisiatif dulu untuk yang dalam lingkup BUMN. Nanti kita lihat tahapannya, harapannya bisa rampung 2028,” ujar Benny.
Rencana bertahap sudah disiapkan dalam roadmap konsolidasi Indonesia Re, 2026: Penggabungan dengan Tugure, 2027: Merger dengan Nasre, 2028: Terbentuk entitas baru sebagai satu perusahaan reasuransi nasional yang besar dan kuat
Benny juga mengungkapkan kekhawatiran besar soal kebocoran premi reasuransi ke luar negeri yang terus meningkat setiap tahun. Pada 2024, nilainya mencapai Rp12,1 triliun—naik dari Rp11,08 triliun pada 2023 dan jauh di atas angka tahun-tahun sebelumnya.
“Industri asuransi justru menyumbang defisit dalam neraca jasa kita. Padahal secara keseluruhan neraca berjalan Indonesia positif. Artinya, ini sektor yang harus segera diperbaiki,” tegasnya.
Menurut Delil Khairat, Direktur Teknik dan Operasi Indonesia Re, konsolidasi akan memungkinkan Indonesia memiliki perusahaan reasuransi dengan modal dan keahlian lebih kuat. Ini penting agar lebih banyak premi bisa ditahan dalam negeri dan risiko disaring lebih bijak.
“Risiko-risiko yang volatile seperti bencana alam tetap perlu disebar ke luar. Tapi untuk risiko lain, dengan modal dan keahlian yang cukup, kita bisa retensi lebih tinggi di dalam negeri,” jelas Delil.
Dengan dukungan penuh Danantara dan langkah strategis Indonesia Re, konsolidasi reasuransi BUMN ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi transformasi. Diharapkan, Indonesia bisa memiliki satu pemain utama di sektor reasuransi yang sanggup bersaing secara global, sekaligus mengurangi kebocoran premi ke luar negeri yang selama ini membebani neraca.
“Kita ingin membangun industri yang kuat, profesional, dan mampu menyeleksi risiko berkualitas. Karena ini bukan hanya untuk kepentingan BUMN, tapi kepentingan nasional,” tutup Benny. (*)










Komentar