Min.co.id ~ Cirebon ~ Di antara denting roda besi dan desir angin yang mengikuti laju lokomotif, berdiri sosok-sosok tanpa nama yang menjaga nyawa di titik-titik rawan: penjaga perlintasan kereta api swadaya. Mereka adalah pelindung senyap di simpang jalan besi, dan kini, dedikasi mereka mendapat cahaya.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 3 Cirebon memberikan 30 paket sembako dan 30 perlengkapan keselamatan kepada para penjaga rel swadaya dalam rangka menyambut Angkutan Lebaran 2025, Rabu (2/4/2025).
“Mereka mungkin tak memakai seragam resmi, namun keberadaan mereka adalah tembok terakhir antara kelalaian dan tragedi,” ujar Muhibbuddin, Manager Humas KAI Daop 3 Cirebon.
Para penjaga swadaya ini bukan pegawai negara. Mereka tidak menerima gaji dari KAI ataupun instansi lain. Namun setiap hari, pagi dan petang, mereka tetap datang membuka dan menutup palang kayu buatan sendiri, meniup peluit, dan memberi tanda bagi pengendara.
Dalam apresiasi kali ini, KAI memberikan paket sembako berisi beras, minyak goreng, mie instan, gula, susu, teh, kopi, dan biskuit. Selain itu, rompi keselamatan, peluit, bendera merah, dan papan tanda ‘vorboden’ juga diserahkan untuk menunjang keselamatan dan kejelasan sinyal di lapangan.
Wilayah kerja Daop 3 Cirebon mencakup 166 perlintasan sebidang, namun hanya 113 di antaranya yang dijaga, baik oleh petugas resmi maupun warga secara swadaya. Sisanya 53 titik dibiarkan tanpa penjaga, membuka celah bahaya yang mengintai setiap detik.
KAI bersama pemerintah secara bertahap menutup perlintasan liar dan tidak terjaga. Tahun lalu, 19 titik ditutup, dan hingga Maret 2025, tiga lagi telah diamankan.
“Perlintasan sebidang adalah titik paling rawan dalam operasional kereta api. Maka dari itu, edukasi, pengawasan, dan kolaborasi masyarakat sangat penting,” jelas Muhibbuddin.
Salah satu penerima bantuan, Pak Sarpin (63), yang menjaga perlintasan tak resmi di kawasan Losari, menyeka air matanya saat menerima rompi oranye menyala dan sebungkus sembako.
“Saya pikir selama ini tidak ada yang melihat. Tapi hari ini, rasanya seperti diberi hadiah atas doa-doa saya di pinggir rel,” ujarnya lirih.
KAI berharap penghargaan ini bukan hanya bentuk terima kasih, tapi juga pemantik semangat bagi masyarakat untuk ikut serta membangun budaya keselamatan transportasi.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat adalah mitra utama dalam menjaga perjalanan kereta tetap aman,” tegas Muhibbuddin.
Setiap peluit yang ditiup bukan sekadar tanda, tapi simbol cinta: cinta kepada nyawa, cinta kepada kampung halaman, cinta kepada keselamatan bersama. Dan kini, mereka tak lagi berjalan sendiri ada tangan negara yang menyentuh punggung mereka, menguatkan langkah para penjaga rel tanpa nama ini. (*)
Editor : Achmad










Komentar