Min.co.id ~ Jakarta ~ Di balik teksturnya yang kering dan renyah, abon menyimpan cerita panjang kuliner Nusantara yang melintasi zaman dan selera. Bukan sekadar lauk pelengkap, abon adalah warisan rasa yang memadukan kepraktisan, ketahanan, dan kelezatan dalam satu suapan.
Terbuat dari serat daging yang disuwir dan diolah dengan racikan bumbu khas seperti gula jawa, bawang putih, ketumbar, dan rempah-rempah Nusantara, abon menyajikan paduan rasa gurih dan manis yang sulit ditolak.
Meski abon sapi paling dikenal, kuliner ini punya wajah-wajah lain yang tak kalah menggoda. Dari abon ayam yang ringan, abon kambing yang kaya rasa, hingga abon hasil laut seperti tuna, tongkol, kepiting rajungan, dan udang, semuanya menawarkan pengalaman rasa yang berbeda di setiap seratnya.
Tak hanya fleksibel dalam bahan baku, abon juga juara dalam fleksibilitas penyajian. Mau ditaburkan di atas nasi panas, diaduk dalam bubur ayam, dijadikan isian lemper, atau disantap langsung sebagai camilan, abon selalu berhasil mencuri perhatian lidah.
Kelebihan utama abon ada pada daya tahannya. Dengan kadar air hampir nol dan disimpan dalam kemasan kedap udara, abon bisa bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan tanpa kehilangan rasa maupun aroma. Tak heran jika ia kerap dijadikan bekal bepergian, stok darurat, hingga hantaran khas daerah.
Di era modern yang serba cepat, abon hadir sebagai jembatan antara tradisi dan gaya hidup praktis. Ia membuktikan bahwa kelezatan tidak harus rumit, dan kearifan lokal bisa tetap relevan dalam kehidupan masa kini.
Abon bukan sekadar makanan. Ia adalah rasa yang dibawa dari masa lalu, untuk dinikmati kapan saja, di mana saja.(*)
Editor : Achmad










Komentar