Min.co.id ~ Jateng ~ Dalam lanskap pertanian yang terus bertransformasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menorehkan langkah maju menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan. Dengan visi yang teguh, BRIN menghadirkan inovasi Smart Farming Biosalin 1 dan 2, sebuah gebrakan riset yang berkelanjutan, bekerja sama dengan pemerintah kota serta Kelompok Tani Sumber Rejeki, di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang. Pada Sabtu, 21 Desember 2024, benih padi Biosalin 1 dan 2, varietas unggul yang tahan terhadap salinitas tinggi, kembali disemai di lahan pesisir seluas 20 hektare, dengan potensi pengembangan hingga 400 hektare.
Periset Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Vina Eka Aristya, menegaskan bahwa program ini tidak hanya menghidupkan kembali lahan tidur, tetapi juga menjadi jawaban bagi tantangan pertanian di kawasan pesisir. Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, dalam refleksi akhir tahun “Riset dan Inovasi Pertanian dan Pangan untuk Indonesia Maju”, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2024, ORPP mencatat pencapaian monumental dalam menghadapi tantangan global mulai dari dampak perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, hingga lonjakan kebutuhan pangan akibat pertumbuhan populasi.
Namun, di balik keberhasilan itu, tantangan masih membentang luas. Ketujuh pusat riset di bawah ORPP, termasuk Pusat Riset Hortikultura, Tanaman Pangan, hingga Peternakan, terus memperkuat kolaborasi untuk memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan tidak hanya sekadar teori, tetapi berdampak nyata bagi masyarakat dan industri. Dengan 1.226 sumber daya manusia tersebar di 19 provinsi, ORPP berhasil mengimplementasikan 100 persen kekayaan intelektualnya, menerbitkan 629 jurnal ilmiah, serta mencatat lebih dari 140 hak kekayaan intelektual hingga akhir tahun.
Dalam pusaran tantangan global, Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi modern. Ia menekankan bahwa keberhasilan Etiopia dan Nigeria dalam merevolusi pertanian berbasis teknologi dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia. BRIN kini mengarah pada rekayasa genetika dalam pembibitan, sistem irigasi presisi berbasis kecerdasan buatan, serta teknologi penyimpanan dan pengawetan pangan guna menjaga ketahanan pangan nasional.
Namun, inovasi tidak hanya berhenti pada teknologi. Transformasi sistem pertanian Indonesia juga harus mencakup perubahan sosial dan ekonomi. Saat ini, para petani bekerja secara mandiri, berbeda dengan sistem di negara maju di mana mereka memiliki status pekerja tetap dengan jaminan penghasilan yang stabil. Amarulla mengusulkan sistem petani bergaji tetap, dengan proses rekrutmen yang transparan, demi memastikan produksi pangan yang berkelanjutan.
Lebih jauh, BRIN juga mengusulkan teknologi irigasi berbasis tradisi lokal, seperti Subak di Bali, yang dikombinasikan dengan sistem modern untuk mengatasi masalah air dan mencegah krisis lingkungan. Pupuk berbasis rumput laut menjadi solusi inovatif untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, menjaga kesuburan tanah, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian.
Dengan sinergi antara riset, inovasi, dan kebijakan, BRIN kini berdiri di garda depan perubahan, meniti jejak menuju Indonesia yang mandiri dalam pangan, kokoh dalam inovasi, dan unggul dalam teknologi pertanian.(*)
Editor : Achmad






![Screenshot_2020-02-12 Tingkatkan Performa Wirausaha, Dosen Untag Lakukan Analisis data K-Means Cluster Dinas Komunikasi dan[...]](https://min.co.id/wp-content/uploads/2020/02/Screenshot_2020-02-12-Tingkatkan-Performa-Wirausaha-Dosen-Untag-Lakukan-Analisis-data-K-Means-Cluster-Dinas-Komunikasi-dan...-2-150x150.png)



Komentar