Min.co.id ~ Jakarta ~ Bulan Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengubah ritme kehidupan, termasuk pola tidur. Banyak orang mengalami kurang tidur akibat menyeimbangkan ibadah tarawih, makan malam, dan sahur. Padahal, tidur yang cukup merupakan kunci utama menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh selama berpuasa.
Elie Abirached, pakar panjang umur yang berbasis di Dubai, menyoroti bagaimana pola makan mendekati waktu tidur dapat mengganggu kualitas istirahat. “Pencernaan yang aktif di malam hari sering kali mengurangi fase pemulihan tubuh, seperti tidur REM dan tidur nyenyak,” ungkapnya, dikutip dari Al Arabiya English.
Dampak kurang tidur dalam jangka pendek bisa dirasakan dalam bentuk kelelahan, gangguan konsentrasi, dan penurunan produktivitas. Sementara dalam jangka panjang, kurang tidur dapat memicu gangguan kesehatan serius seperti resistensi insulin, hipertensi, hingga kenaikan berat badan.
Agar ibadah tetap lancar tanpa mengorbankan kesehatan, diperlukan strategi pembagian waktu tidur yang efektif:
-
Tidur utama – Tidurlah selama 4-5 jam setelah tarawih tanpa gangguan.
-
Tidur siang – Luangkan waktu 60-90 menit untuk tidur siang atau setelah Subuh.
-
Tidur ringkas (power nap) – Istirahat singkat 15-20 menit dapat meningkatkan fokus dan energi.
Menjalani Ramadan dengan penuh semangat tidak hanya bergantung pada ibadah dan asupan makanan yang tepat, tetapi juga dengan menjaga kualitas tidur. Dengan pola istirahat yang teratur, tubuh tetap bugar, pikiran tetap jernih, dan ibadah pun dapat dijalankan dengan lebih optimal.(*)
Editor : Achmad










Komentar