Min.co.id ~ Jabar ~ Gunung Tangkuban Parahu, salah satu ikon wisata alam di Jawa Barat, menyimpan keindahan yang memukau serta sejarah geologi yang panjang. Berlokasi sekitar 20 km di utara Kota Bandung, gunung ini memiliki ketinggian 2.086 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi hamparan kebun teh serta hutan pinus yang rimbun. Suhu udara di kawasan ini cukup sejuk, dengan rata-rata 17°C pada siang hari dan dapat turun hingga 2°C pada malam hari.
Nama Tangkuban Parahu yang berarti “perahu terbalik” berasal dari legenda rakyat tentang Sangkuriang. Kisah ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Sangkuriang yang jatuh cinta pada ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Ketika Dayang Sumbi menyadari identitas Sangkuriang, ia menolaknya dan mengajukan syarat yang mustahil: membuat danau serta perahu dalam satu malam. Dengan bantuan makhluk gaib, Sangkuriang hampir berhasil. Namun, sebelum fajar tiba, Dayang Sumbi menggagalkan usahanya dengan mengelabui langit agar tampak seperti sudah pagi. Marah, Sangkuriang menendang perahu yang sedang dibuatnya, hingga terbalik dan berubah menjadi Gunung Tangkuban Parahu.
Gunung Tangkuban Parahu merupakan gunung berapi stratovolcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Aktivitas vulkaniknya telah membentuk 13 kawah, tiga di antaranya menjadi destinasi favorit wisatawan:
- Kawah Ratu, yang merupakan kawah terbesar dan paling terkenal, menawarkan pemandangan dramatis dengan uap belerang yang terus mengepul.
- Kawah Upas, berlokasi di dekat Kawah Ratu, memiliki struktur yang lebih dangkal tetapi tetap menarik untuk dikunjungi.
- Kawah Domas, unik karena pengunjung dapat mendekati sumber air panasnya, bahkan merebus telur langsung di air belerangnya.
Selain itu, masih ada kawah-kawah lain seperti Kawah Pangguyanganbadak, Kawah Jurig, Kawah Siluman, dan Kawah Badak yang memiliki keunikan masing-masing.
Gunung ini terbentuk sekitar 125.000 tahun lalu di Kaldera Sunda dan masih aktif hingga kini. Letusan pertama yang tercatat terjadi pada tahun 1829, berdasarkan catatan botanis dan geolog Franz Wilhelm Junghuhn. Setelah itu, letusan kembali terjadi pada tahun 1846, 1867, 1887, dan 1896. Beberapa letusan lain yang signifikan terjadi pada tahun 1910, 1929, 1946, 1957, 1969, 1983, 1994, 2013, dan terakhir pada tahun 2019.
Menurut para ahli, Gunung Tangkuban Parahu memiliki pola letusan berkala dengan masa istirahat antara 30 hingga 70 tahun. Oleh karena itu, pemantauan aktivitas gunung ini terus dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) guna mengantisipasi kemungkinan letusan di masa mendatang.
Pada tahun 2005, PVMBG telah memetakan kawasan rawan bencana di sekitar gunung ini. Wilayah tersebut diklasifikasikan menjadi tiga zona:
- Zona I, dalam radius 1 km dari kawah, merupakan area paling berbahaya karena potensi letusan dan gas beracun.
- Zona II, dalam radius 5 km, berpotensi terkena lontaran batu pijar serta hujan abu vulkanik.
- Zona III, yang berada di lembah-lembah sungai seperti Ciasem, Cimuji, Cikole, dan Cikapundung, rawan terhadap aliran lahar saat terjadi erupsi besar.
Dengan segala keunikan geologis dan kisah legendarisnya, Gunung Tangkuban Parahu tetap menjadi daya tarik wisata yang tak pernah pudar. Keindahan alam, sejarah letusan, dan cerita rakyat yang menyertainya menjadikannya destinasi yang tidak hanya memanjakan mata tetapi juga memperkaya wawasan tentang budaya dan geologi Indonesia.(*)
Editor : Achmad










Komentar