Min.co.id ~ Ponorogo ~ Kabar menggembirakan datang dari dunia budaya Indonesia. Reog Ponorogo resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam kategori Urgent Safeguarding List pada Desember 2024. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kesenian Reog tidak hanya bernilai tinggi bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia.
Namun, di balik kebanggaan ini, muncul tantangan besar: bagaimana menjaga agar Reog Ponorogo tetap hidup dan relevan di tengah gempuran budaya modern?
Reog Ponorogo: Antara Warisan dan Ancaman Kepunahan
Menurut UNESCO, Reog Ponorogo diakui karena dua alasan utama. Pertama, Reog merupakan salah satu seni pertunjukan paling khas dari Indonesia yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan estetika tinggi. Kedua, seni ini masuk dalam kategori terancam punah, karena semakin sedikitnya generasi muda yang terlibat dalam pelestariannya.
Dosen Departemen Komunikasi FISIP Universitas Airlangga, IGAK Satrya Wibawa, S.Sos., MCA., Ph.D., menegaskan bahwa pengakuan ini harus menjadi momentum kebangkitan, bukan sekadar kebanggaan.
“Pengakuan UNESCO ini bukan akhir, melainkan awal perjuangan baru. Kita harus memastikan bahwa Reog tetap lestari dan berkembang, terutama di tangan generasi muda,” ujarnya dalam diskusi di Surabaya, Jumat (14/2).
Strategi Melestarikan Reog Ponorogo
Untuk menjaga eksistensi Reog Ponorogo, diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat menghubungkan tradisi dengan perkembangan zaman. IGAK menyebut ada empat aspek utama yang bisa menjadi pedoman:
-
Pemetaan dan Dokumentasi Digital
Perlu ada arsip digital lengkap yang mencakup sejarah, teknik pertunjukan, filosofi, serta komunitas yang aktif melestarikan Reog Ponorogo. -
Akses dan Edukasi Publik
Generasi muda harus diperkenalkan lebih dalam pada seni Reog melalui sekolah, media sosial, dan festival yang menarik minat mereka. -
Inovasi tanpa Kehilangan Identitas
Seni tradisi harus bisa beradaptasi dengan zaman, misalnya dengan pertunjukan berbasis digital atau kolaborasi dengan seni kontemporer. -
Dukungan Komunitas dan Pemerintah
Peran pemerintah dan komunitas lokal sangat penting dalam menjaga ekosistem budaya Reog, baik dalam bentuk bantuan finansial, regulasi, maupun promosi global.
Tantangan Generasi Muda: Mau ke Mana Reog Ponorogo?
Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah berkurangnya minat generasi muda terhadap seni tradisional. UNESCO mencatat bahwa banyak anak muda yang lebih tertarik pada seni modern yang dianggap lebih simpel dan interaktif.
“Gen Z harus diberi ruang untuk berkreasi dengan Reog Ponorogo. Biarkan mereka merancang, mengadaptasi, dan menghidupkan kembali seni ini dengan cara mereka sendiri, tanpa kehilangan esensi budayanya,” kata IGAK.
Jika generasi muda tidak segera dilibatkan, maka pengakuan UNESCO ini bisa menjadi sia-sia. Oleh karena itu, para maestro Reog, pemerintah, dan komunitas budaya harus bersinergi untuk menciptakan ekosistem seni yang inklusif bagi anak muda.
Reog Ponorogo di Masa Depan: Bangkit atau Hilang?
Dengan lebih dari 300 grup Reog yang masih aktif di Ponorogo, ada harapan besar untuk kebangkitan seni ini. Namun, tanpa strategi yang jelas, bukan tidak mungkin Reog hanya akan menjadi sekadar cerita dalam buku sejarah.
“Pengakuan UNESCO adalah tiket menuju panggung dunia. Kini tugas kita adalah memastikan Reog Ponorogo tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan dikenal lebih luas,” pungkas IGAK.(*)
Editor : Achmad










Komentar