4 Nasi Porsi Mungil Khas Nusantara

Min.co.id – Nasi merupakan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Aneka jenis nasi banyak ditemui dari Sabang sampai Merauke yang memiliki cita rasa khasnya masing-masing.

Tak hanya banyak jenisnya, nasi khas Nusantara juga memiliki aneka porsi. Bahkan adapula memiliki porsi mungil. Meski begitu, nasi porsi mungil ini banyak dicari dan disukai, lho. Berikut 4 nasi dalam porsi mungil khas Nusantara.

  • Nasi Kucing, Jogja
Dok. pegipegi.com

Nasi kucing mungkin sudah tidak asing lagi didengar. Nasi khas Jogja yang bisa dijumpai di angkringan-angkiran. Kini, angkrikan khas Jogja bisa dengan mudah ditemui di berbagai daerah.

Nasi kucing merupakan nasi bungkus yang dilengkapi dengan berbagai pilihan lauk, seperti sate usus, sate ati ampela, ceker ayam, sate telur puyuh, tahu dan tempe bacem, dll.

Porsi nasi kucing sengaja dibuat sedikit karena untuk menyesuaikan kemampuan masyarakat pada zaman dulu. Di mana, nasi ini pada awalnya diperuntukkan bagi masyarakat kalangan bawah.

  • Nasi Jinggo, Bali
Dok. Shutterstock/antoshkaphoto

Nasi Jinggo hampir sama dengan nasi kucing khas Jogja. Namun, yang membedakannya yaitu isi lauk dan bentuk bungkusnya. Nasi Jinggo berisi sekepal nasi yang biasanya diberi lauk ayam suwir, potongan tempe kecil-kecil, serundeng, mie goreng, telur, dan sambal. Adapula variasi lauk dengan daging sapi atau babi.

Konon katanya, nasi Jinggi sudah dijual sejak tahun 1980-an. Pertama kali dijual di Jalan Gajah Mada, Denpasar. Tepatnya di dekat Pasar Kumbasari.

  • Sego Angkruk, Ponorogo
Dok. Instagram omahwedang_otomotif

Sego Angkruk berasal dari kata ‘sego’ yang berarti nasi dan ‘engkruk’ yang berarti ditumpangkan. Jadi, sego Angkruk berarti nasi yang lauknya ditumpangkan di atasnya, lalu dibungkus dengan menggunakan daun pisang. Lauk sego angkrung beraneka ragam tergantung selera.

Awalnya, sego Angkruk dibuat untuk orang-orang yang bekerja di hutan karena praktis dan tahan lama. Pembutaan nasi khas Ponorogo ini dimanfaatkan untuk menemukan cari memasak nasi bungkus yang bisa tahan lama. Untuk itu, cara pembuatannya berbeda dengan nasi bungkus pada umumnya.

Pertama, nasi diolah terlebih dahulu sampai setengah matang. Nasi setengah matang tersebut, kemudian ditata di daun pisang lalu di atasnya diberi lauk kemudian dibungkus. Setelah itu, dikukus selama kurang lebih satu jam lamanya dan nasi sudah matang serta siap disantap.

  • Sego Gegog, Trenggalek
Dok. Suryatravel/aflahul abidin

Kata ‘Gegog’ merupakan akronim dari Genem Godhong Gedhang. Sego Gegog berarti nasi yang dibungkus menggunakan daun pisang. Nasi ini bertama kali dipopulerkan di Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek oleh Mbah Tuminah sebagai pencetusnya.

Trenggalek yang dikelilingi pegunungan menjadikan masyarakatnya bermata pencaharian petani di ladang. Biasnya untuk menghindari cuaca yang panas, mereka akan berangkat ke ladang sepagi mungkin. Kondisi inilah yang akhirnya mencetuskan ide membuat sego Gegog sebagai bekal yang cepat dibuat dan enak. (Iim)

Komentar

News Feed