oleh

Esensi Ibadah Haji dan Kurban

-Opini-104 views

Min.co.id-“Semua duka pada akhirnya akan terhenti,kecuali duka karena meninggalkan petunjuk Baginda Nabi.Semua bahagia pun akan sirna,kecuali bahagia saat kita diakui sebagai umatnya.Tentu saat kita benar-benar meneladani ketaatan, perjuangan dan pengorbanannya di jalan Allah SWT.”

Sudah maklum, selain Baginda Rasulullah SAW yang wajib kita amalkan seluruh ajarannya dan semua nasihatnya, ada sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haji dan kurban. Dialah Nabiyullah Ibrahim as.

Di dalam QS al-Shafat [37] ayat 102, Allah SWT mengisahkan bagaimana Ibrahim as, dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya: menyembelih putra tercintanya, Ismail as. Demikianlah, kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis ini selayaknya menjadi ibrah sepanjang zaman bagi umat Islam. Sebab bukankah Allah SWT pun telah berfirman:

“Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (di jalan Allah) yang paling kalian cintai” (TQS Ali Imran [3]: 92).

Nabiyullah Ibrahim as. telah membuktikan hal itu. Bukan hanya harta, bahkan nyawa putra semata wayangnya yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya ia persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah. Zat Yang lebih ia cintai dari apapun.

Karena itu pada momen penting ibadah haji dan kurban tahun ini, selayaknya kita bisa mengambil ibrah dari keteladanan Nabiyullah Ibrahim as; dari besarnya cinta, ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah SWT.

Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT ini kemudian diteruskan secara sempurna. Bahkan dengan kadar yang istimewa, oleh Baginda Rasulullah SAW. Bukan hanya cinta dan taat. Bahkan beliau pun siap mengorbankan segalanya, termasuk nyawa sekalipun, demi tegaknya agama Allah SWT ini.

Ala kulli hal. Inilah sesungguhnya esensi ibadah haji dan kurban. Kita diajari tentang cinta, ketaatan dan kepatuhan total kepada Allah SWT. Kita pun diajari tentang keharusan untuk berkorban mengorbankan apa saja yang ada pada diri kita semata-mata demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Karena itu dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim as dan Baginda Rasulullah SAW, mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Tentu saat kita hidup dalam naungan sistem Islam yang paripurna, di bawah ridha Allah SWT.

Oleh: Tawati

Komentar

News Feed