oleh

Gagasan Penghapusan Pelajaran PAI Perlu Diwaspadai

-Opini-93 views

Min.co.id-Sejumlah guru agama di Kabupaten Majalengka mengaku resah dengan adanya informasi yang beredar terkait penghapusan mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab sesuai dengan Keputusan Menteri Agama.

Kabar tersebut beredar di pesan berantai WhatsApp (WA). Dalam keterangan itu, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar mengatakan bahwa Madrasah, baik Ibtidaiyah (MI), Tsanawiyah (MTs), maupun Aliyah (MA), akan menggunakan kurikulum baru untuk Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.

Menurut Umar, Kemenag telah menerbitkan KMA No 183 tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. Selain itu, diterbitkan juga KMA 184 tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah. Kedua KMA ini akan diberlakukan secara serentak pada semua tingkatan kelas pada tahun pelajaran 2020/2021. (Dikutip Radar Majalengka, 13/7/2020)

Wacana penghapusan pelajaran agama perlu kita waspadai. Jika ditelusuri, wacana tersebut bukanlah yang pertama kali. Sudah muncul beberapa kali sebelumnya. Artinya, bukanlah hal baru. Substansi dari gagasan itu tidak lain adalah sekularisme dan sekularisasi pendidikan khususnya. Seruan itu berusaha menempatkan agama sebagai urusan pribadi (privat dan personal). Seruan itu juga mengajak agar agama tidak diikutkan dalam kehidupan publik.

Padahal kita justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah, secara keseluruhan, secara total. Allah SWT pun memperingatkan kita agar tidak mengikuti langkah-langkah setan: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Seruan untuk menghapus pelajaran agama (Islam) dari kurikulum sekolah jelas merupakan bagian dari mengikuti langkah dan jalan setan. Pasalnya, itu artinya kita diseru untuk tidak masuk Islam secara kaffah. Jika seruan itu keluar dari orang kafir tentu wajar. Sebaliknya, tentu sangat aneh jika seruan itu keluar dari atau didukung oleh seorang Muslim.

Karena itu gagasan agar agama (Islam) tidak perlu diajarkan di sekolah atau pun dihapuskan mudah untuk dipahami sebagai upaya melakukan deislamisasi. Tujuannya jelas untuk memadamkan ghirah kaum Muslim dan menjauhkan mereka dari Islam. Tidaklah berlebihan jika gagasan itu dinilai sebagai ekspresi islamophobia.

Jelas, gagasan untuk menghapus pelajaran agama dari kurikulum sekolah hanya akan menambah dan memperparah kerusakan. Ada pelajaran agama saja, banyak terjadi problem di masyarakat, khususnya di kalangan pelajar. Apalagi jika pelajaran agama dihapus. Jika ingin memperbaiki kondisi pelajar dan kehidupan masyarakat, pelajaran agama mestinya ditambah lagi sebagai jam pelajaran khusus ataupun diinternalisasikan dalam berbagai pelajaran lainnya.

Lebih dari itu, untuk menyelesaikan aneka problem dan memperbaiki kehidupan masyarakat, yang harus dilakukan justru kembali pada jalan Islam, yaitu dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWT di atas. Inilah sesungguhnya yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab umat Islam yang harus segera diwujudkan di tengah-tengah kehidupan.

Penulis : Tawati

Komentar

News Feed