oleh

Drama Corona Memicu Dilema Anak Desa

-Opini-103 views

Min.co.id-Pandemi, menjadi mimpi buruk bagi sebagian besar manusia di seluruh dunia. Tak terkecuali di sebuah kabupaten, yang terkenal dengan buah mangganya yakni Indramayu. Membawa efek domino, segala sektor dirundung krisis. Selain sektor ekonomi, dunia pendidikan pun terimbas.

Aset bangsa terancam nasibnya. Hak untuk mendapatkan pendidikan, nyatanya masih terpilah-pilah. Beruntung bagi siswa bertempat tinggal di pusat kota. Kegiatan belajar mengajar masih dapat berlangsung meski lewat daring. Namun, bagaimana nasib siswa yang hidup di pelosok desa?

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan sistem daring, meniscayakan kebutuhan akan jaringan internet. Sayangnya belum semua wilayah mampu menikmati layanan ini. Bahkan, bila sebagian merisaukan jaringan atau sibuk mencari sinyal, anak-anak di desa, didera kepiluan akibat ketidakmampuan membeli kuota internet. Memenuhi kebutuhan perut saja sedemikian peliknya, apalagi terpikir untuk membeli kuota internet.

Sebagian lain dirisaukan dengan keterbatasan alat penunjang. Jangankan telepon pintar android, telepon genggam jadul pun tidak punya. Tak menampik fakta, kemiskinan masih membelit dan melilit kaum marginal. Bangunan rumah pun seadanya. Besok bisa makan atau tidak, masih mengundang tanya. Tak aneh, bila telepon masih dianggap barang mewah, tidak terjangkau untuk dibeli.

Kendala lain datang dari lemahnya kemampuan orang tua murid dalam membimbing anaknya belajar daring. Penguasaan teknologi belum merata sampai ke daerah-daerah terpencil. Akhirnya drama Corona menjadi dilema tersendiri bagi siswa terutama di daerah perkampungan. Di satu sisi, pandemi mengancam nyawa, di sisi lain, siswa merasa butuh untuk terus menimba ilmu di sekolah.

Sebagaimana terjadi di SD Negeri Rancasasi II yang berlokasi di Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar secara daring atau online seperti yang disarankan oleh pemerintah, terasa sulit dan banyak kendala yang dialami. (TribunCirebon.com, 15/7/2020).

Ibarat, tak ada rotan akar pun jadi. Demi tetap tersampaikannya materi pelajaran, inisiatif pun diambil. Kepala SD Negeri Rancasari II, Muhamad Dasmin mengatakan, agar para murid bisa tetap terlayani pihaknya melakukan metode belajar berupa pemberian tugas untuk dikerjakan anak-anak dalam jangka waktu tertentu.

Cara lain disampaikan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IX Jawa Barat, Dewi Nurhulaela agar pihak sekolah bisa melakukan guru kunjung atau guru mendatangi siswa di rumah.

Hanya saja persoalannya, apakah cara di atas dinilai efektif atau cenderung minimalis. Bisa dibayangkan sibuknya para guru jika harus mendatangi satu per satu muridnya dengan jarak rumah yang berbeda. Tidakkah hal ini malah membebani dan memberatkan para guru? Lalu jika siswa hanya diberikan tugas perminggu, lantas bagaimana memastikan ilmu terserap dan tersampaikan dengan baik? Tidakkah ini terbaca hanya sebagai formalitas belaka?

Semestinya hal dilematis seperti ini tidak akan terjadi bila sejak awal pemerintah sigap dalam masalah penanggulangan wabah. Lockdown total untuk meredam virus di wilayah terjangkit, sehingga tidak merembet dan menyebar luas ke wilayah lainnya.

Selain itu, butuh dipugar kembali keseriusan dalam membenahi persoalan pendidikan di negeri ini. Terutama saat terjadi wabah. Pemerintah selayaknya menyediakan fasilitas tekhnologi bagi seluruh anak didik agar tetap bisa mengikuti pembelajaran.

Misalnya dengan memberikan kepada para siswa telepon seluler berbasis android. Menyediakan kuota yang murah dan membuat tower-tower di daerah pelosok agar terjamah jaringan.

Tapi nyatanya, hal tersebut sulit diwujudkan dan terbentur pada keterbatasan anggaran. Padahal masalah sebenarnya ada pada paradigma negara saat ini. Cenderung kapitalis-sekuler. Ironisnya, pendidikan malah menjadi prodak bisnis. Untung rugi menjadi asasnya. Bukan lagi menonjolkan aspek pelayanan. Maka yang terjadi adalah penanganan yang setengah-setengah.

Saat ini bukan hanya siswa yang mengalami kebingungan dan ketidakjelasan arah pendidikan. Tapi pihak guru pun serupa. Bongkar pasang kurikulum dan kebijakan. Ditambah lagi terpaan badai pandemi. Seakan hanya menunggu waktu untuk menjemput kehancuran.

Tentu tak ada seorang pun yang mengharapkan kegamangan ini terus berlangsung. Maka dibutuhkan solusi tuntas untuk mengatasinya. Sudah saatnya manusia kembali berserah kepada Penciptanya. Menyerahkan segala urusan dengan kepengaturanNya.

Lantas bagaimana Islam berbicara soal pendidikan?
Islam memandang pendidikan sebagai salah satu hak asasi bagi setiap warga. Maka negara wajib menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas, baik di wilayah perkotaan atau pun pedesaan. Baik bagi muslim maupun selainnya, kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, selama statusnya adalah warga negara, maka tidak ada diskriminasi. Semua harus dapat menikmati akses terbaik dan termudah dalam menuntut ilmu.

Pembiayaan pendidikan dalam sistem Islam, sepenuhnya ditanggung oleh negara melalui baitul maal. Diambil dari pos fa’i dan kharaj (yang merupakan kepemilikan negara) seperti ghanimah, khumuus, jizyah dan dharibah. Juga pos kepemilikan umum seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima.

Biaya pendidikan dari baitul maal itu secara garis besar dibelanjakan untuk dua kepentingan: pertama, membayar gaji semua pihak yang bersentuhan dengan pelayanan pendidikan, seperti guru, dosen, karyawan administrasi, dan lain-lain.

Kedua, pembiayaan segala macam sarana dan prasarana pendidikan, seperti bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, buku-buku juga alat penunjang lainnya.

Keseriusan dalam pelayanan pendidikan bagi setiap warga lahir dari paradigma ideologis yakni akidah Islam. Dimana nilai ruhiyah menjadi asasnya. Bukan semata aspek keuntungan atau bisnis, tapi negara menegakkannya semata atas dasar ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Tanpa lagi melihat apakah dalam suasana normal atau pandemi. Apakah di kota atau desa. Kewajiban tetap kewajiban, tidak bisa ditawar-tawar atau sekadar formalitas. Tapi fokus pada tujuan dari pendidikan itu sendiri yakni mencetak generasi unggul dan berkepribadian Islam. Hingga terwujudlah peradaban gemilang.

Wallâhu a’lam bish-shawab.

Oleh: Shafayasmin Salsabila
(Penggerak Opini dari Indramayu)

Komentar

News Feed