oleh

Media Massa dan Politik

-News-712 views

Min.co.id-Jakarta-Transformasi politik menjadi bagian dari kontribusi media. Kini media memiliki kontribusi besar dalam membangun pemahaman masyarakat hingga perilaku politiknya.

Dalam merespons perubahan politik pasca Orde Baru, sebagian pekerja media menghadapi realitas politik yang penuh dinamika.

Kondisi demikian melahirkan perubahan perilaku politik di kalangan masyarakat. Salah satu faktor determinan adalah publikasi media yang memberitakan transformasi politik dan pers memiliki kebebasan berekspresi sehingga dalam pemberitaannya cenderung independen.

Hal inilah yang melatari terjadinya perubahan perilaku politik masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia.

Berbagai persoalan yang mengiringi pola dan intensitas berpolitik di kalangan yang dilatari dari besarnya pengaruh media massa, Hal ini menarik dicermati dalam paradigma akademik.

Justru aspek yang cukup menarik namun belum mendapat perhatian akademik yang baik, adalah pada dimensi media. Mencermati berbagai tayangan media yang bermuatan media terutama yang bermuatan politik mengalami proses dekonstruksi terjadi melalui proses penafsiran kemudian menjadi realitas sosial baru dalam kesadaran umum melalui tahap eksternalisasi, subjektifikasi, dan internalisasi yang berlangsung dalam proses konstruksi sosial media dalam media.

Dalam perspektif media komunikasi Indonesia kontemporer, kehadiran media massa menghadapi dilema terkait dengan tuntutan reformasi media massa. Terutama jika kita mencermati media pasca reformasi dimana ditandai dengan meleburnya politik dengan budaya masa kini.

Salah satu elemen demokrasi adalah kebebasan pers yang kelak membangun kesadaran politik masyarkat. Kontribusi media cukup signifikan terhadap konstruk kesadaran, pemahaman dan perilaku politik masyarakat, termasuk kehadiran media yang turut mempengaruhi perilaku politik.

Masyarakat memasuki era baru yang dikenal era reformasi, yang ditandai mundurnya Soeharto sebagai presiden 21 Mei 1998 melahirkan liberalisasi dan relaksasi politik. Pada era ini, konstelasi politik di tanah air mengalami transformasi paradigma dan sistem cukup signifikan.

Berbagai persoalan yang mengiringi pola dan intensitas berpolitik di kalangan yang dilatari dari besarnya pengaruh media massa. Hal ini menarik dicermati dalam paradigma akademik. Justru aspek yang cukup menarik namun belum mendapat perhatian akademik yang baik, adalah pada dimensi media.

Hal ini dianggap unik sebab pola politik media terkadang sulit diukur melalui pendekatan media dan kaitannya dengan perilaku politik secara normatif bahkan empiris.
Media Sebagai Sumber Pengaruh Politik

Dari berbagai literatur yang dikaji mengenai komunikasi politik, umumnya dikaitkan dengan peranan media massa dalam proses komunikasi yang dilaluinya. Hal ini mencerminkan adanya kecenderungan makalah dan karya tulis yang terkait komunikasi politik masih didominasi mengenai kampanye politik untuk mendulang suara atau membangun kekuatan politik yang diorientasikan pada kekuasaan.

Kampanye politik tersebut tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh media massa, baik media cetak maupun elektronik. Konsekuensinya, pendekatan analisis yang digunakannyapun pada gilirannya lebih banyak menggunakan analisis media massa, terutama berkaitan dengan teori-teori hubungan antara media dan masyarakat, seperti teori tentang pesan, mekanisme penyebaran informasi yang terjadi, serta efek-efek psikologis dan sosiologis yang ditimbulkannya.

Pada prinsipnya, komunikasi politik tidak hanya terbatas pada even-even politik seperti pemilu saja, tetapi komunikasi politik mencakup segala bentuk komunikasi yang dilakukan dengan maksud menyebarkan pesan-pesan politik dari pihak-pihak tertentu untuk memperoleh dukungan massa.

Secara teoritis fenomena komunikasi politik yang berlangsung dalam suatu masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dinamika politik, tempat komunikasi itu berlangsung. Karena itu, kegiatan komunikasi politik di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari proses politik nasional yang menjadi latar kehidupannya.

Sementara itu, peran media kini mengubah kehidupan masyarakat sehingga membentuk hiper realitas yang menjadi bagian fungsional dalam berbagai struktur masyarakat, terutama hadirnya televisi dan internet yang mengambil alih fungsi sosial manusia sehingga media sangat memerlukan kontrol untuk memberikan pendidikan politik, berupa membangun kesadaran masyarakat melalui saluran informasi media.

Dengan demikian jelas bahwa media memiliki peran penting dalam sirkulasi pesan-pesan politik kepada masyarakat. Melalui media, seorang politisi dapat membangun pencitraan dirinya sehingga memiliki tingkat keterpilihan tinggi.

Dalam konteks politik modern, media massa tidak hanya menjadi bagian integral dari politik, tetapi juga memiliki posisi yang sentral dalam politik. Rancangan kebijakan harus disebarluaskan agar rakyat mengetahui dan ikut mendiskusikannya dalam berbagai bentuk forum diskusi publik. Tuntutan atau aspirasi masyarakat yang beraneka ragam harus diartikulasikan. Semuanya membutuhkan saluran atau media untuk menyampaikannya.

Media dapat mempengaruhi semua hal yang ada di dunia ini, salah satu contohnya melalui televisi, alur politik di Indonesia sangat besar terpengaruh karena media mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi opini publik dan perilaku masyarakat, karenanya keberadaan media massa bagi partai politik menjadi sesuatu yang sangat strategis dan teramat penting.

Sebagai media yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia, televisi punya pengaruh paling besar terhadap masyarakat, termasuk membentuk opini masyarakat terhadap partai politik.

Media massa merupakan saluran komunikasi politik yang banyak digunakan untuk berbagai macam kepentingan-kepentingan. Hal tersebut dikarenakan sifat media massa yang dapat mengangkat pesan-pesan (informasi dan pencitraan) secara massif dan menjangkau khalayak atau publik yang beragam, jauh, dan terpencar luas.

Apalagi pesan politik melalu media massa akan sangat kuat mempengaruhi perilaku politik masyarakat. Pentingnya perilaku politk dalam menunjang keberhasilan pembangunan politik tampak dari perhatian ilmuwan politik yang tetap besar terhadap masalah ini. Asumsi umum menunjukkan bahwa demokrasi dapat dipelihara dan dipertahankan karena terdapat partisipasi warga negara yang aktif dalam urusan kewarganegaraan.

Partisipasi aktif mereka dalam kehidupan politik tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan informasi, dan saluran atau media yang paling efektif untuk penyebaran informasi adalah media massa. Begitu kuatnya peranan media, para politisi menjadikan kampanye di media televisi sebagai prioritas utama.

Kampanye politik di televisi dapat mempengaruhi masyarakat dalam menentukan pilihan. Apalagi jika media mampu menangkap selera publik serta paham bagaimana menampilkan sang politisi di layar TV, maka semakin besar kemungkinan masyarakat akan terdoktrin. Media sendiri telah berperan penting dalam membentuk opini publik. kekuatan media diyakini oleh pemilik yang juga merupakan elit partai politik, sehingga dengan terang-terangan mereka memodifikasi isi pemberitaan yang satu tujuan dengan agenda politiknya, dengan demikin maka memang benar jika media merupakan mesin paling efektif untuk mendongkrak citra kandidat pejabat.

Memang sudah menjadi fakta yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa media televisi berafiliasi dengan kekuatan politik. Sesungguhnya kondisi ini sudah berlangsung sejak lama. Mari lihat sejarah. Di tahun 1968, Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon memenangkan nominasi partainya berkat liputan televisi, namun sangat disayangkan sebab kondisi ini terus berlanjut sampai hari ini di Republik Indonesia ini.

Yang kita harapkan, media menyajikan berita yang bebas dari kepentingan politik atau pihak-pihak tertentu. Tapi, memang yang kita rasakan media seringkali mengangkat berita bertema politik yang menjadi sorot publik.

Sebagai konsumen dari berita televisi kita dituntut untuk lebih pintar dan selektif dalam menerima pesan dari berita di televisi. Membangun kecerdesan bermedia dapat dengan cara selalu mempertanyakan setiap aspek yang ada, bersikap kritis dan menjujung tinggi nilai objektifitas.

Oleh : Achmad Zamzami MM.
Pegiat Literasi Media / Asisten Ahli Bid. Kelembagaan KPI Pusat

Komentar

News Feed