oleh

Pembukaan Pesantren di Tengah Pandemi Tepatkah ?

-Lain-Lain-100 views

Oleh : Ummu Nafisa Fathia

Min.co.id-“Pesantren tidak mungkin meliburkan para santrinya sampai waktu yang tidak diketahui,” ujar pengasuh pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat KH.Zainal Muhyidin. Dikatakan, sebagian pesantren sudah mulai mengembalikan santri-santrinya. Hal ini dilakukan atas kebijakan yang diambil dan sudah melalui musyawarah yang matang melalui dewan pengasuh. Kebijakan ini sebagai wujud atas kesiapan pesantren dalam menyambut new normal atau tatanan kenormalan baru di tengah pandemi covid 19.

Dijelaskan, ada beberapa protokol dan syarat diperbolehkannya santri kembali ke pesantren. Diantaranya membawa surat keterangan sehat, melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari sebelum keberangkatan, menyiapkan stok masker dan hand sanitizer. Sebelum kedatangan santri, Satgas covid 19 pesantren juga melakukan berbagai persiapan, seperti menyiapkan alat pengecek suhu (thermogun), cairan disinfektan, hand sanitizer, dan pos pos kedatangan. Hal ini dilakukan agar santri benar-benar steril dari virus corona dan pesantren terjaga dari penyebaran virus tersebut. (Dikutip nu.online, 29/6/2020)

Di tengah situasi yang masih berbahaya ini, dimana penyebaran covid 19 masih mengkhawatirkan dengan terus bertambahnya kasus positif, pemerintah mengambil kebijakan new normal atau situasi normal baru. Keputusan ini lebih mementingkan aspek ekonomi. Padahal WHO sendiri telah menetapkan syarat-syarat untuk bisa dilakukan prosedur new normal. Diantaranya angka kasus baru 0 (nol) selama 14 hari.

Kebijakan new normal yang ditetapkan pemerintah, dan membuka kembali sarana-sarana pendidikan termasuk pesantren tentu harus dikaji ulang. Apakah membahayakan kesehatan dan keselamatan para santri dan para pengasuhnya atau tidak. Pemerintah bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan mereka. Seharusnya pemerintah memperhatikan dan memfasilitasi pesantren untuk kembali membuka pesantrennya. Atau memberikan sarana untuk kegiatan belajar para santri secara online dari rumah misalnya, agar kesehatan dan keselamatan mereka terjaga.

Memang, bencana berupa wabah (pandemi) ini merupakan bagian dari qadha’ (ketetapan Allah SWT) yang tidak bisa ditolak. Namun, sistem dan metode apa yang digunakan untuk mengatasi dan mengendalikan wabah adalah pilihan, ada dalam ikhtiari manusia. Faktanya, saat ini para penguasa dunia, juga penguasa negeri ini, lebih memilih untuk menerapkan sistem kapitalisme, dan menggunakan metode yang lebih mementingkan aspek ekonomi dalam mengatasi wabah. Menjaga dan memelihara nyawa manusia seolah dinomorduakan.

Apalagi dalam menjaga dan memelihara agama, pemerintah makin terkesan abai. Saat wabah seperti ini, banyak masjid ditutup. Tidak boleh menyelenggarakan shalat Jumat dan shalat berjamaah. Pesantren ditutup, para santrinya dipulangkan ke rumah masing-masing. Semua dengan alasan demi mencegah penularan wabah covid 19. Sebetulnya, alasan ini masuk akal. Tentu jika dibarengi dengan penutupan tempat-tempat keramaian yang lain seperti mal-mal, pasar-pasar, bandara, stasiun, terminal dan lain-lain.

Persoalannya, sejak awal langkah isolasi dengan luar negeri dan juga isolasi antar daerah tidak segera diterapkan oleh pemerintah. Akibatnya, covid 19 pun menyebar hampir ke seluruh negeri. Saat ini, yang harus diprioritaskan oleh pemerintah adalah bagaimana mengendalikan dan mengatasi pandemi covid 19. Keselamatan nyawa manusia harus lebih didahulukan daripada kepentingan ekonomi. Apalagi sekadar memenuhi kepentingan ekonomi segelintir orang, yakni para kapitalis (pengusaha/pemilik modal).

Karena itu, solusinya tidak lain dengan syariat Islam. Nyawa manusia akan terselamatkan, ekonomi akan bisa tetap berjalan. Dengan prosedur sesuai petunjuk syariat itu, nyawa dan kesehatan rakyat tetap bisa dijaga. Agama dan harta (ekonomi) juga tetap terpelihara. Apalagi penerapan syariat Islam memang bertujuan untuk memelihara agama, nyawa, dan harta manusia. “Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR. An-Nasai, at-Tirmidzi dan al Baihaqi).

Perlindungan dan pemeliharaan syariah Islam atas nyawa manusia diwujudkan melalui berbagai hukum. Diantaranya melalui pengharaman segala hal yang membahayakan dan mengancam jiwa manusia. Nabi SAW. bersabda, “Tidak boleh (haram) membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ibn Majah dan Ahmad).

Wallahu a’lam bishawab.

Komentar

News Feed