oleh

Dari Dinasti Wuhan sampai ke Varian Baru UK

Min.co.id-Jakarta-Pintu masih digembok. Satuan Tugas  Penanganan Covid-19 memperpanjang larangan bagi warga negara asing (WNA) dari luar negeri masuk ke wilayah Indonesia, antara 15 hingga 25 Januari 2021. Sebelumnya, larangan serupa berlaku pada 1–14 Januari 2021. Ketentuan itu termaktub dalam Surat Edaran nomor 2 tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional di  Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen Doni Monardo mengatakan, kebijakan ini dilakukan untuk melindungi masyarakat Indonesia dari penyebaran varian baru SARS COV-2, virus pembangkit pandemi Covid-19. Mutan baru itu dikenal sebagai varian Inggris (UK) dengan kode genomik B-117. Hingga pertengahan Januari 2021, varian baru ini telah terdeteksi di lebih dari 45 negara, termasuk Malaysia, Singapura, dan Filipina. Sejauh ini, belum ada laporan ditemukan di Indonesia.

Varian B-117 itu momok baru. Meski telah terdeteksi kemunculannya sejak September 2020, Otoritas Kesehatan Inggris Raya (United Kingdom) baru melaporkannya secara resmi tentang mutan baru itu ke WHO pada 14 Desember 2020. Dilaporkan pula bahwa dalam tempo kurang tiga bulan, mutan baru ini telah mendominasi kasus infeksi Covid-19 di Inggris. Pada November, misalnya, lebih dari 60 persen pasien Covid-19 di Inggris bagian selatan terpapar oleh varian B-117.

Otoritas Kesehatan UK melansir keterangan resmi bahwa varian baru itu 70 persen lebih menular ketimbang varian sebelumnya. Namun berita baiknya, mutan ini tidak lebih ganas. Hal itu ditandai dengan fakta bahwa mortality rate atau persentase kematian dari pasien Covid-19 relatif tak berubah. Rata-rata durasi perawatan pasien Covid-19 kategori berat juga tetap 28 hari, tak berubah. Varian B-117 ini juga bisa didiagnosa dengan mesin PCR standar dan terdeteksi dengan rapid test kit yang ada, baik yang berbasis antigen atau antibodi. Yang berubah, hanya daya tularnya yang kian menguat.

Varian B-117 ini adalah hasil mutasi dari varian yang sebelumnya yakni D-614-G, yang diperkirakan mulai muncul  pada awal Februari 2020. Mutan D-614-G ini diyakini sebagai hasil mutasi pertama dan yang paling berhasil dari generasi pertama virus Wuhan yang mulai berjangkit Desember 2019 di Tiongkok. Virus dari marga corona itu cepat berkembang menjadi dinasti virus patogen, ditasbihkan sebagai strain baru, penyebab severe acure respiratory syndrome (SARS), sindrom akut gangguan pernafasan. Secara genomik dia mirip virus flu onta SARS-1, karenanya ia disebut SARS COV-2.

Mutasi

Varian D-614-G ini menjadi paling dominan secara global sejak Juni 2020. Per September 2020, dari 92.000 isolat yang dihimpun Lembaga Riset GISAID di Jerman dari seluruh penjuru dunia, sebanyak 77,5 persen mengandung genom (material genetik) yang disebut D-614-G. Dari 24 isolat asal Indonesia yang dikirim ke GISAID, sembilan di antaranya mengandung genome D-614-G. Kode D-614-G itu sendiri menunjuk pada sepotong genome baru yang mencuat di antara deretan genome standar SARS COV-2 asli Wuhan.

Dalam perjalanannya virus memang selalu bermutasi dan terus bermutasi. Mutasi ditandai dengan hilangnya sederet asam nukleat pada genom asli, lantas digantikan genom baru. Mutasi ini terjadi umumnya karena kegagalan replikasi dalam proses pembiakannya. Bila hasilnya memperkuat daya adaptasi virus, maka akan muncul varian baru. Bila tidak, individul virus itu akan punah. Munculnya genom D-614-G itu jelas memperkuat daya adaptasi virus Covid-19, terbukti dari sebarannya yang dominan.

Di bawah mikroskop tampak bahwa virus pembawa genom D-614-G itu akan terlihat memiliki “spike”, semacam duri tebal dari protein, yang bisa membuatnya lebih mudah menempel pada sel inang. Daya infeksinya meningkat, meski tidak terbukti meningkatkan keparahan penyakit atau angka kematian. Mutan ini juga tak didaftarkan sebagai varian baru karena tak jelas asal-usulnya. Mutasi terus berlanjut secara acak pada genom virus Covid-19 yang memiliki rangkaian sepanjang 26.000–32.000 unit asam nukleat, yang terhimpun dalam delapan segmen itu. Yang kini menonjol ialah varian UK dengan genome khas B-117 dan varian Afrika Selatan dengan genome barunya N-501-Y. Keduanya dianggap memiliki daya tular yang lebih kuat.

Varian dan Strain Baru

Dalam laporannya ke WHO, Otoritas Kesehatan Inggris mengatakan bahwa genom B-117 di varian UK, yang  terdiri dari untaian 23 unit asam nukleat, ternyata tidak berhubungan dengan genom virus aslinya. Laporan  itu membuka dugaan bahwa genom B-117 itu berasal dari virus lain. Ihwal pertukaran genom antarvirus adalah hal yang yang biasa dan bisa mengangkatnya menjadi strain baru. Hal itu terjadi bila dua jenis virus atau lebih menginfeksi inang yang sama, di saat yang sama.

Dalam buletin berkalanya yang bertajuk Disease Outbreak News, edisi 31 Desember 2020, di laman resmi WHO, disebutkan bahwa sebuah varian virus penyakit itu muncul tak cukup dengan hadirnya genom baru, melainkan harus pula mengubah perilaku dan dampaknya (virulensi). Varian baru itu, menurut risalah WHO, mengubah tingkat penularan (transmissibility), mengubah gejala klinis pada pasien (clinical presentation), dan berdampak pada cara pendeteksian atau kemanjuran obat atau vaksin.

Sejauh ini, varian Inggris B-117 itu hanya mengubah laju penularannya. Namun, varian itu masih terdeteksi dengan alat PCR dan rapid test yang ada. Ia juga tak memandulkan obat-obatan Covid-19 yang ada selama ini dan diyakini tidak pula menafikan vaksin yang ada. Toh, dengan satu perubahan pun ia bisa disebut varian baru.

Untuk mutan Afrika Selatan, sang pemilik genom baru N-501-Y, baru akan disebut varian baru bila terdapat bukti ilmiah atas sederet persyaratan itu. Begitu halnya dengan mutan Belanda, Denmark, dan Brazil yang disinyalir telah muncul. Ada persyaratan untuk menjadikannya menjadi varian baru. Namun jika semua syarat varian itu terpenuhi, termasuk sosoknya tak lagi bisa terdeteksi oleh mesin PCR dengan cartridge reagen yang ada, dia bisa disebut sebagai strain baru. Kondisinya sudah terlalu beda dari para tetuanya.

sumber : indonesia.go.id

Komentar

News Feed