Waspadai Kelainan Irama Jantung Tersembunyi

Min.co.id ~ Jakarta ~ Dr. Donny Yugo Hermanto, Sp.JP (K), seorang spesialis jantung dan pembuluh darah, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap kelainan irama jantung yang tersembunyi, terutama saat melakukan aktivitas berat seperti berolahraga. Menurut dr. Donny, kelainan irama jantung yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan jantung standar bisa berakibat fatal, bahkan pada atlet profesional sekalipun.

“Atlet profesional bisa mengalami henti jantung apabila terdapat kelainan irama jantung yang tersembunyi. Pada keadaan normal, kelainan ini tidak terdeteksi pemeriksaan jantung standar,” ujarnya pada Rabu (3/7/24), dikutip dari Antaranews.

Peringatan ini merujuk pada kasus tragis kematian Zhang Zhi Jie, atlet bulu tangkis tunggal putra China, yang meninggal dunia saat pertandingan BNI Badminton Asia Junior Championships 2024 di Yogyakarta.

Dr. Donny menekankan pentingnya pemeriksaan khusus bagi mereka yang berisiko tinggi mengalami henti jantung. Uji provokasi dan studi listrik dapat dilakukan pada individu dengan keluhan seperti pingsan mendadak, pandangan gelap, berdebar, serta memiliki riwayat keluarga yang mengalami kematian mendadak.

Baik atlet maupun masyarakat umum disarankan untuk mengetahui kapasitas jantung mereka melalui pemeriksaan Cardio Pulmonary Exercise Testing (CPET) yang tersedia di beberapa rumah sakit. Selain itu, menghitung persentase laju nadi saat berolahraga dengan rumus Age-Predicted Maximal Heart Rate (APMHR) juga dianjurkan. “Nilai APMHR dapat dihitung dengan rumus 220 dikurang jumlah usia. Bila laju nadi sudah melebihi APMHR, artinya jantung dalam kapasitas maksimalnya. Namun, penilaian yang paling baik tetap dengan menggunakan CPET,” jelas dr. Donny.

Dia juga menyarankan untuk mewaspadai tanda-tanda seperti kelelahan berlebih, nyeri dada, sesak napas, dan pandangan gelap saat berolahraga sebagai upaya menghindari henti jantung.

Jika seseorang di sekitar mengalami henti jantung, dr. Donny menyarankan untuk segera melakukan bantuan keselamatan dengan urutan cek kesadaran, panggil bantuan, cek nadi di leher selama lima sampai 10 detik, dan bila tidak ada nadi, berikan pijatan jantung dengan kecepatan 100 kali per menit.

Pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) ini dapat dipelajari oleh masyarakat awam dan tersedia di beberapa provider seperti Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) yang rutin memberikan pelatihan.

tbn

Editor : Achmad

Komentar

News Feed