oleh

Rasakan Bubur Aneka Rupa di Warung Mbak Muk

-Kuliner-62 views

Min.co.id-Temenggung-Bagi penggemar kuliner, khususnya bubur untuk sarapan pagi, dapat menikmatinya di Warung Makan Mbak Muk, jalan raya Mungseng, dari Masjid Agung Darussalam Temanggung, 500 meter ke arah Selatan, setelah melewati SMA Negeri 3 Temanggung, letaknya kiri jalan setelah pemakaman umum Giyanti, RT 03 RW 01 Kelurahan Giyanti, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung.

Mu’awanah (57), lebih akrab disapa Bu Muk atau Mbak Muk, mengungkapkan bahwa warung bubur miliknya berdiri sejak tahun 2007.

“Saya masak bubur pertama untuk dijual, semangkok sedang ini, niat dari awal untuk menyambung hidup, bersama anak yang masih kecil-kecil saat itu, pulang kampung dari Jakarta ke Temanggung,” ungkapnya.

Selanjutnya, Bu Muk yang asli kelahiran Giyanti, anak dari pasangan Mbah Ahmad Tohir dan Maemunah, di warungnya ini, penikmat kuliner bubur bisa memilih, bubur pedas atau bubur gurih/terik.

“Saya sekarang sampai dua panci bubur, masaknya mulai jam tiga pagi, sambil saya sholat tahajud dahulu. Semua saya masak sendiri, termasuk sayur dan menu yang lain ini, ada telur balado, ada empis-empis tempe dan ikan asin dan usus, lele, ati ampela,” kata Bu Muk yang merupakan lulusan MAN Temanggung 1986/1987, Jumat (4/3/2022).

Di warung ini, ada bermacam-macam jajanan, dengan harga mulai Rp 1000 sampai Rp 2000, mulai dari tempe dan tahu goreng, gimbal, klepon, lunpia, risoles, rolade, bakwan, dadar gulung, kue lumpur dan jajanan tradisional lainnya. Ketos atau ketan urap kelapa, serta entho cothot juga tersedia, ada juga ayam goreng krispi dan ayam goreng bacem.

“Jajanan ini semua titipan, disetorkan jam enam pagi, diambil jam empat sore, berbagi rejeki dan menambah silaturahmi, tetap ramah dan santun itu kuncinya,” imbuhnya, yang pernah mengenyam pendidikan di MTs Muallimin Jampirejo Temanggung 1982/1983.

Narno (58), salah satu pelanggan yang berasal dari Menggoro, Tembarak, mengungkapkan bahwa masakan di warung Bu Muk ini cocok bagi lidah orang Temanggung.

“Saya biasa setiap pagi ngopi dan sarapan bubur pedas, sambil jajan klepon dan klemet,” tegasnya.

Setiap bulan Ramadan atau puasa, warung ini tutup satu bulan penuh, setiap harinya buka dari jam 05.30 WIB sampai 17.30 WIB.

“Jam sepuluhan nanti biasanya banyak yang nongkrong, ngobrol, ngopi dan main catur, ibu-ibu beli sayur dan gorengan untuk makan siang keluarganya. Saya menyisihkan untuk tabungan untuk bekal ke tanah suci, umroh dan haji,” pungkas ibu dari empat anak ini.

sumber:infopublik

Komentar

News Feed