oleh

Lukisan Khombow Khas Asei, Upaya Menjaga Tradisi

Min.co.id – Danau Sentani tak hanya elok pemandangan alamnya. Tapi banyak seni budaya dan adat istiadat nan eksotik. Salah satunya adalah seni lukis di atas kulit kayu.

Masyarakat Papua, khususnya yang tinggal di Jayapura, pasti mengenal kampung di danau Sentani yang bernama Asei Pulau. Di kampung yang masuk distrik Sentani Timur itu, sebagian masyarakatnya ahli melukis di atas kulit kayu. Bagi mereka, melukis di atas kulit kayu merupakan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Kampung Asei Pulau.

Untuk menuju ke Asei Pulau bisa diakses dengan menggunakan perahu motor dari Danau Sentani, di dermaga Khalkhote, Kampung Harapan Distrik Sentani Timur. Tapi kalau ingin agak lama dan mau menunggu ombak yang pas, Anda juga bisa mendayung sampan.

Kalkote adalah dermaga paling dekat dengan Stadion Lukas Enembe, jarak bisa ditempuh dengan waktu tak lebih dari 10 menit, dengan naik kendaraan dari stadion. Selain sebagai sentra lukisan kulit kayu, di Kampung Asei juga terdapat situs gereja tua dan peninggalan sejarah Perang Dunia ke-II.

Sejumlah pelukis mengaku, mereka melukis di atas kulit kayu (khombow) demi mempertahankan budaya warisan nenek moyang. Makanya corak lukisannya pun tak jauh berbeda antara yang satu dengan lainnya. Mereka melukis tidak sembarangan. Tapi seperti melukis motif tertentu yang punya makna dan itu motif warisan leluhur masyarakat Asei.

Khombow merupakan pembungkus tubuh (atau lembar pakaian) yang dipakai oleh nenek moyang masyarakat Asei. Khombow memiliki nilai filosofi yang sangat tinggi bagi orang Sentani, karena pada masa lalu sebagai pakaian khombow hanya digunakan tiga kali dalam kehidupan manusia. Yakni, pertama, digunakan sebagai pembungkus saat seorang anak lahir. Kedua, digunakan sebagai pakaian pernikahan atau Malo oleh anak perempuan Sentani. Dan ketiga, digunakan sebagai pembungkus jasad saat seseorang meninggal dunia.

Dari dulu jenis motif lukisan khombow kurang lebih 12 motif. Misalnya, motif matahari, motif ular, motif cicak, kadal, Ikan, kaki burung bangau, belut, kelelawar, tupai terbang, daun-daun, bunga hutan, dan lainnya.

Ada pula lukisan yang berhubungan dengan aspek religi dan mitologi seperti lukisan Hu dan Yoniki. Lukisan yang berhubungan dengan aspek sosial ekonomi, seperti Fouw, Kasindale, Isomo dan Kino. Motif-motif ini ada yang memiliki arti dan makna yang bersifat sakral untuk orang Sentani, karena ada motif yang khusus dimiliki oleh seorang Ondofolo (pemimpin adat), Khoselo, dan perangkat adat lainnya.

Namun belakangan muncul sejumlah motif baru yang lebih ngepop yang dikembangkan dalam lukisan seperti orang menari dan memanah, burung cenderawasih, orang sedang menebar jaring, gambar ikan-ikan, dan alat musik pukul tifa, dan lain-lain. Hal itu karena lukisan kulit kayu khombow tidak hanya digunakan sebagai pakaian masyarakat adat, melainkan juga sudah menjadi salah satu cenderamata khas Papua dari Sentani.

Dan ternyata, kulit pohon yang bisa digunakan untuk papan lukis pun tidak sembarang. Hanya pohon tertentu yang dalam bahasa orang Asei disebut pohon khombow. Pohon ini harus ditebang dan dipotong-potong, baru dikelupas kulitnya. Sehingga memang tidak mudah mencari kayu khombow. Sehingga mereka harus membudidayakan agar bisa lestari.

Setelah dikelupas, kulit kayu pohon itu ditumbuk dan dikeringkan, baru bisa dipakai sebagai lembaran untuk melukis. Tidak mudah melukis di kulit kayu, karena permukaan kasar. Sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama. Waktu melukis di atas kulit kayu paling cepat 10 menit dan paling lama satu jam, untuk satu lembar lukisan yang kurang dari 50×50 cm persegi.

Begitu juga bahan yang digunakan untuk pewarna gambar terbuat dari warna-warna bahan alami. Misalnya warna hitam bisa diambil dari arang kayu, putih dari kapur sirih yang dicampur dengan minyak kelapa, dan merah dari serpihan batu yang ditumbuk halus. Jika salah metode perwarnaanya dan keliru bahan, maka motif yang dilukis di kulit kayu muda terhapus. (Sumber: indonesia.go.id)

Komentar

News Feed