oleh

PN Indramayu Sidang Perkara Pidana Persetubuhan Anak di Bawah Umur

Min.co.id – Indramayu – Pelaku tindak pidana persetubuhan terhadap anak di bawah umur, FJR mulai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Indramayu, Rabu (1/7/2021).

Dalam sidang perdananya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Siska Purnama Sari, SH membacakan dakwaan terhadap Anak Pelaku FJR di depan majelis hakim secara virtual dengan dihadiri oleh pelaku yang didampingi oleh wali, penasihat hukum serta pihak dari Bapas, yang mana dalam hal perkara yang berhubungan dengan kesusilaan, sehingga sidang tersebut berlangsung dan tertutup untuk umum.

Selaku jaksa Anak pada Kejari Indramayu, Siska Purnamasari menerangkan dalam dakwaannya bahwa, “Pelaku FJR yang telah melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan persetubuhan, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak , sehingga akibat perbuatannya, anak pelaku juga harus dihukum untuk mempertanggungjawabkannya,” tegas penuntut umum tersebut.

Adapun ancaman hukuman dari pasal yang didakwakan, yaitu pasal 82 Ayat (2) undang-undang perlindungan anak, pelaku FJR terancam hukuman pidana penjara paling sedikit lima tahun dan maksimal 15 tahun, namum sehubungan dengan pelaku yang masih berusia di bawah 18 tahun, aparat penegak hukum dalam menerapkan proses peradilannya, wajib mengacu dan mempedomani Pasal 81 ayat (2) Undang-undang No.11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana anak, yang menyebutkan bahwa hukuman atau pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak di bawah umur yang sudah melakukan kejahatan adalah paling lama 1⁄2 (satu perdua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa.

Setelah penuntut umum membacakan dakwaanya, baik FJR maupun penasihat hukum tidak mengajukan keberatan, sehingga persidangan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Dalam pemeriksaanya, saksi korban T menerangkan bahwa FJR benar telah memaksanya untuk melakukan persetubuhan, sedangkan anak Korban “T” diketahui masih berusia di bawah umur, yakni berusia 15 tahun.

Selain itu Saksi lain yang hadir yaitu Saksi Lulus juga menerangkan bahwa pada saat kejadian, saksi melihat anak pelaku dan anak korban masuk kedalam tempat toko kayu, yang disebutkan merupakan tempat di mana FJR memaksa korban untuk bersetubuh, sedangkan FJR dalam pemeriksaannya pun membenarkan seluruh keterangan para saksi dan mengakui kesalahannya telah melakukan perbuatan memaksa dan menyetubuhi anak korban, sehingga agenda pemeriksaan selesai dan Hakim yang mulya menunda sidang tersebut kemudian untuk agenda berikutnya adalah pembacaan surat tuntutan akan dilanjut pada tanggal 6/7/2021. (Zul IZ/Andry)

Komentar

News Feed