oleh

KPAI Pengawasan Ke Banjarmasin Pasca Pemerintah Tetapkan Status Darurat

-News-113 views

Min.co.id-Banjarmasin-Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan pengawasan langsung ke Banjarmasin pada 19-21 September 2019 pasca pemerintah menetapkan status siaga bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera yang meliputi lima propinsi. Tujuan ke Banjarmasin adalah untuk mempertimbangkan apakah Banjarmasin layak dijadikan lokasi evakuasi anak-anak dan kelompok rentan lainnya ketika bencana karhutla memasuki status darurat.

Merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan Universitas Harvard, menyebutkan bahwa jika karhutla terus terjadi, akan berakibat 36 ribu kematian dini. Petaka yang pernah terjadi pun sudah dijelaskan dalam sebuah studi di jurnal PNAS, bahwa akibat karhutla 1997, anak yang lahir pada masa bencana asap itu menderita stunting. Mereka lebih pendek sekitar 3.3 cm dari anak lain yang tidak terpapar karhutla. Studi lain juga menyebutkan bahwa bencana asap akibat karhutla juga berpotensi menurunkan kemampuan kognitif anak menurun sebanyak 6%.

Kerugian akibat karhutla masih ditambah lagi triliunan Dana untuk rehabilitasi lahan dan bahkan keanekaragaman hayati yang sudah tidak dapat kembali lagi. Padahal keanekaragaman hayati maupun satwa langka berada di wilayah hutan Kalimantan dan Sumatera, jika mereka musnah maka anak-anak sebagai generasi penerus hanya dapat melihat gambar dan membaca cerita berbagai tumbuhan dan binatang tersebut.

Saat pengawasan, KPAI mengunjungi kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan yang memiliki pengalaman melakukan evakuasi kelompok rentan (anak-anak balita dan SD bersama ibunya, wanita hamil dan beberapa manula) korban karhutla dari Kalimantan Tengah ke Kalimantas Selatan pada tahun 2015. Lokasi pengungsian kala itu adalah di komplek Banjar Indah Permai kota Banjarmasin. Kala itu, evakuasi dilakukan pada 22 dan 25 Oktober 2015, dan para pengungsi kembali ke rumahnya pada 2 november 2015.

KPAI dan WALHI Kalsel melakukan diskusi atas berbagai kemungkinan dan kesiapan ketika status darurat bencana karhutla terjadi dan bagaimana anak-anak dan janin yang dikandung dapat diselamatkan dari bencana asap.

KPAI mendapatkan penjelasan melalui video terhadap wilayah yang terbakar dan posisi serta jumlah titik titik api di wilayah Sumatera dan Kalimantan, kondisi terkini (September 2019) sejak karhutla terjadi, bahkan Indeks kualitas udara di Kalteng tercatat pernah mencapai Indeks 2000, padahal Indeks 300 saja kondisi udara sudah membahayakan. Pontianak (Kalbar) indeks kualitas udara pada 17 September adalah diatas 370 yang berarti juga dalam kategori berbahaya. Kategori ini tentu berbahaya untuk semua orang, apalagi mereka yang manula dan yang masih berusia 13 tahun ke bawah.

Di jelaskan juga bahwa saat ini Kalteng dan Kalbar dalam kondisi status siaga bencana, belum masuk status darurat. Namun demikian dari hasil diskusi Walhi Kalsel dan KPAI, kami sepakat pemerintah seharusnya di masa status siaga ini menyiapkan segala kemungkinan jika mencapai status darurat, seperti penyiapan mobil oksigen, rumah aman asap, makanan bergizi, snack dan minuman yg diperlukan anak-anak agar tetap sehat selama kabut asap, termasuk lokasi yang menjadi tempat pengungsian saat evakuasi kelompok rentan akan dilakukan.

Rekomendasi

Pertama, Subjek yang di tangani KPAI adalah anak, sehingga KPAI harus memastikan bahwa semua pihak dalam bencana karhutla melakukan perlindungan Anak dari dampak asap. Karena bencana asap telah merampas hak-hak anak, seperti hak atas udara bersih dan lingkungan bersih, Hak Sehat, Hak Belajar/sekolah, Hak Bermain, dan Hak istirahat. Untuk itu, KPAI mendesak Pemprov, Pemda dan Kementrian/Lembaga terkait segera turun tangan.

Kedua, Jika kualitas udara di sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat terus tidak sehat bahkan masuk Indeks sangat berbahaya akibat karhutla sehingga pemerintah menetapkan status darurat, maka pemerintah pusat dan pemerintah provinsi perlu mempertimbangkan evakuasi anak-anak dan ibunya serta manula dan perempuan hamil dari lokasi kabut asap ke provinsi terdekat yang lebih aman dan kualitas udaranya lebih baik.

Ketiga, KPAI mendapatkan penjelasan lengkap tentang kejadian karhutla pada tahun 2015, dimana Walhi Kalsel berhasil melakukan evakuasi anak-anak dan ibunya, wanita hamil dan manula dari Kalteng ke Kalsel, mereka menyebutnya sebagai kelompok rentan yang paling terdampak dari bencana asap. Kualitas udara yang buruk akibat asap telah membuat kelompok rentan tersebut paling menderita. Pengalaman WALHI Kalsel saat mengelola evakuasi para pengungsi kabut asap tahun 2015 tersebut dapat dijadikan rujukan sekaligus alternatif oleh pemerintah bahwa Banjarmasin bisa dijadikan salah satu wilayah evakuasi kelompok rentan, terutama anak-anak dibawah usia 12 tahun untuk wilayah Kalimantan.

Keempat, KPAI mengapresiasi keberhasilan Walhi Kalsel saat evakuasi korban karhutla dari Palangkaraya ke Banjarmasin tahun 2015, dimana pengelolaan para korban yang dievakuasi sangat ramah anak dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak. Lokasi pengungsian berada di komplek Banjar Indah Permai, kota Banjarmasin. Awalnya Walhi Kalsel mengelola dengan dukungan swadaya masyarakat, dimana para pengungsi di tampung di rumah-rumah warga. Anak-anak memiliki ruang bermain dan belajar karena memang tersedia di lingkungan komplek tersebut.

Kelima, KPAI juga mengingatkan agar pemerintah provinsi, pemerintah daerah dan Kementerian/Lembaga terkait untuk dari sekarang mulai menyiapkan lokasi pengungsian ketika akan evakuasi kelompok rentan, Psikolog, dokter anak ketika kondisi untuk status darurat, guru untuk kepentingan proses pembelajaran bagi anak-anak usia PAUD dan SD di pengungsian, serta sarana bermain di lokasi pengungsian agar anak-anak tetap ceria, memiliki aktivitas rutin yg menyenangkan dan stress pada anak selama bencana asap dapat diminimalkan. (Retno Listyarti)

Komentar

News Feed