oleh

Tawuran Antar Gengster, Disebabkan Karena Medsos

Min.co.id-Cirebon-Kapolresta Cirebon AKBP Roland Ronaldy menceritakan kejadian nahas yang menewaskan Mohamad Indra Jaelani (18) warga Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terjadi pada Senin (17/8/2019) lalu, tepatnya di sekitar wilayah Pasar Jagasatru, Kota Cirebon. Polisi mengamankan enam orang pelaku, dari tujuh orang yang diduga mengeroyok Indra.

“Satu pelaku masih DPO. Beberapa hari lalu kita amankan tiga pelaku, sebelumnya juga kita sudah mengamankan tiga pelaku lain,” kata Roland di Mapolresta Cirebon, Kamis (5/9/2019).

Polisi telah membidik sejumlah geng yang kerap tawuran, termasuk dua geng yang terlibat tawuran hingga menewaskan Indra. “Kemarin sudah kita pantau, totalnya ada 15 kelompok yang sering tawuran. Ini tersebar di Kota Cirebon,” kata Roland.

Belasan geng tersebut tentu mengancam kondusifitas daerah. Terlebih lagi, kata Roland, tawuran bagian dari media untuk membuktikan eksistensi suatu geng. Polanya, geng yang menang tawuran akan mendapatkan label terkuat di antara yang lainnya.

Lokasi dan waktu tawuran pun mereka atur tersendiri. Parahnya, mereka mengatur lokasi dan waktu tawuran melalui jagat maya atau media sosial (medsos). Tentunya melalui kode-kode yang hanya dimengerti oleh anggota geng.

“Modusnya itu mereka janjian untuk tawuran melalui kode-kode yang diunggah di medsos. Kode-kode tawuran ini disampaikan dari satu kelompok ke kelompok lain, mereka akan saling sahut,” kata Roland.

Pelaku pengeroyok Indra adalah salah satu bagian dari geng yang mengikuti tren tersebut. Lewat jagat maya mereka menentang bahaya, mengatur ritme tawuran, tujuannya untuk mengelabui aparat.

Selain mengamankan anggota geng yang mengeroyok Indra hingga tewas, polisi juga menangkap dua pelaku dari geng lain yang terlibat tawuran di Jalan Slamet Riyadi Kota Cirebon. Keduanya masih berstatus pelajar.

“Kita amankan karena pelajar ini membawa celurit. Mereka tawuran, menyimpan senjata tajam di balik bajunya,” kata Roland.

Peluku yang berinisial AR dan DM itu tergabung dalam geng Kansas. Roland menceritakan melalui aplikasi pesan singkat, Kansas bersama tiga geng lainnya, yakni geng Pancuran Slow Man (PSM), Brother Tanpa Batas (BTB) dan Pancuran Ruwed janjian untuk tawuran.

“Empat geng ini menyepakati untuk ketemuan dan tawuran di perempatan Jalan Slamet Riyadi sekitar pukul 02.00 WIB pada 18 Agustus lalu. Pelaku ini sempat membacok salah seorang dari kelompok lain,” katanya.

Menurut Roland, tawuran yang diatur lewat media sosial merupakan fenomena baru du Kota Cirebon. Saat ini pihaknya memantau 11 akun media sosial yang kerap membuat kode-kode tawuran. Roland juga mengaku sempat menutup sejumlah akun yang memicu terjadinya tawuran antar kelompok atau pelajar.

“Akun (medsos) yang kita pantau ada 11 akun. Kemudian, dari hasil penyelidikan sebanyak 15 kelompok yang kita pantau, ya yang kerap tawuran,” kata Roland.

“Mereka ini pakai kode, TKP juga pindah-pindah. Jadi pengamanan tak hanya dilakukan di titik rawan, tapi harus juga menggunakan patroli siber,” tambah Roland.(red)

Komentar

News Feed