oleh

Tohirin dan Istrinya Nurnengsih Bebas Dari Hukuman Mati

-News-232 views

Min.co.id – Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi yang tergabung dalam Wiralodra Community Saudi Arabia, memberikan Apresiasi atas kinerja Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh yang telah berhasil membebaskan pasangan suami istri Tohirin dan Nurnengsih dari kematian.

Pasangan suami istri warga Blok Mangir, Desa Sliyeg, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat pada Januari 2016 keduanya sempat terancam hukuman Pancung oleh pengadilan di Riyadh atas tuduhan melakukan ritual sihir di Negara Islam tersebut.

” Komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) Indramayu di Arab Saudi berterimakasih dan mengapresiasi kinerja KBRI Riyadh yang sudah membebaskan kedua anggota kami dari hukuman mati,” ucap ketua Wiralodra Community Saudi Arabia, Abul Aziz melalui pesan elektronik, Jumat (27/7/2018).

Beliau juga menceritakan, awalnya Tohirin dan Nurnengsih bekerja pada majikan bernama Sanad Al-Zuman selam 13 tahun, namun entah kenapa kemudian keduanya memutuskan untuk pindah bekerja di Madrasah Darul Bayan sambil membawa kedua anak perempuannya untuk di sekolahkan di Madrasah tersebut.

“Setelah Tohirin dan istrinya pindah bekerja dari majikannya ke Madrasah, selang waktu 2 tahun secara mengejutkan mereka didatangi oleh Intel kepolisian setempat dan kemudian keduanya ditangkap dan dibawa ke kantor polisi Al-Akik atas laporan dari mantan majikannya dengan tuduhan telah menyantet istri dan anaknya,” ujarnya

Kemudian Tohirin di tahan hanya dua Minggu sedangkan istrinya di tahan selama 10 bulan dikarenakan yang dilaporkan oleh mantan majikannya adalah Nurnengsih yang dituduh melakukan ritual santet.

“Saat ditangkap oleh kepolisian Al Akik, Nurnengsih kondisinya sedang hamil sehingga sampai melahirkan anak laki-laki di dalam tahanan Tahil,” tutur Aziz

Setelah Tohirin dan Nurnengsih di tahan kemudian pihak KBRI Riyadh membantunya dengan menyediakan pengacara untuk membantu mengeluarkan kedua nya dari jeratan hukum mati.

Melalui 4 kali proses persidangan termasuk mengajukan banding oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), akhirnya keduanya dapat terbebas dari ancaman hukuman mati tindak pidana Ritual sihir tersebut.

“Kalau ketiga anaknya sekitar tiga bulan yang lalu sudah dipulangkan kini hanya menunggu exit permit Nurnengsih saja yang masih belum dapat, kalau sudah dapat harapnya ingin balik ke Indramayu dapat terwujud,” mengakhiri Pembicaraannya. (Kang Supardi)

Komentar

News Feed