oleh

Kunjungi Taman Nasional Merapi, Jokowi Ajak Warga Beralih Pekerjaan

-News-41 views

Min.co.id-Magelang-Muntahan material Gunung Merapi berupa pasir sudah lama menjadi ladang rezeki bagi banyak orang. Itu pula yang menyebabkan muncul banyak penambangan pasir di Kawasan Merapi. Di Jawa Tengah, penambangan pasir Kawasan Merapi antara lain di Kemalang Kabupaten Klaten, Selo Kabupaten Boyolali dan Srumbung Kabupaten Magelang.

Banyaknya penambangan pasir di Kawasan Merapi, disikapi pemerintah dengan keluarnya Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Nasional Gunung Merapi. Perpres itu untuk menjamin kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi yang berbasis mitigasi bencana.

Saat kunjungan kerja di Taman Nasional Gunung Merapi, Presiden RI Joko Widodo mengatakan, untuk mewujudkan kelestarian lingkungan di kawasan nasional gunung merapi, masyarakat diajak beralih ke pekerjaan lain. Caranya dengan menjadi bagian pengembangan ekowisata Taman Nasional Gunung Merapi.

“Sejak 3-4 tahun ini, masyarakat mulai bertransformasi dari kegiatan penambangan pasir ke ekowisata. Ada perkumpulan pecinta harmoni merapi dan lain-lain. Jadi dia punya persatuan jeep segala macam,” katanya, didampingi Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maimoen, Jumat (14/02/2020).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menambahkan, peredaran nilai uang di Taman Nasional Gunung Merapi dengan potensinya, mencapai hampir Rp 60 miliar.

Siti merinci, peredaran uang dari ekowisata sebesar Rp 14,8 miliar atau 24,9 persen, rumput pakan ternak Rp 19,4 miliar, pasir dan batu Rp 16,8 miliar, rencek Rp 3,7 miliar, air Rp 2,9 miliar, pembuatan arang Rp 1,8 miliar, dan perdagangan kayu bakar Rp 0,08 miliar.

Dari data itu nampak, mulai ada pergeseran dari kegiatan penambangan batu dan pasir ke kegiatan ekowisata. Sementara potensi lain masih rata-rata di bawah 10 persen.

“Artinya apa, kesejahteraan masyarakat bisa dibangun, sementara lingkungannya, terjadi perubahan alamiah yang kembali pada keseimbangan yang diatur oleh alam sendiri. Itu berarti perlindungan alamnya tetap dilakukan,” jelasnya.

Presiden RI Joko Widodo sepakat dengan Menteri LHK. Mengembalikan kondisi alam dengan alamiah, diperlukan. Salah satu fungsinya adalah meminimalir terjadinya bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor.

Presiden pun meminta, agar memperbanyak menanam tanaman vetifer. Sebab di lereng curam, tanaman tersebut mampu mencegah longsor, dan erosi. Selain tanaman vetifer, masyarakat juga diminta untuk menanam tanaman yang memiliki ekonomi tinggi.

“Tanam tanaman vetifer, tanam yang fungsi hijaunya ada, sekaligus fungsi ekonominya ada. Itu sekarang akan terus saya dorong,” katanya.

Pada kesempatan itu, Presiden juga menanam pohon pulai. Pohon dengan nama botani alstonia scholaris itu baik untuk penghijauan karena saat tumbuh besar, daunnya hijau mengkilat, rimbun dan melebar. Kayu pohon pulai juga banyak dimanfaatkan untuk membuat perkakas rumah tangga dan patung.

Selain menanam pohon, Presiden melepas sepasang burung elang jawa yang diberi nama rossy dan abu. Elang abu maupun rossy, sebelum dilepas mendapat proses rehabilitasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang sejak kedatangannya pada 8 Juni 2018. (red/humasjateng)

Komentar

News Feed