oleh

Mengenal Masjid Kuno Peninggalan Wali Syekh Ja’far Sidiq Cibiuk Garut

-News-363 views

Min.co.id-Garut-Salah seorang tokoh penyebar Islam di Garut, Jawa Barat adalah Syekh Muhammad Ja’far Shidiq Cibiuk yang hidup satu perjuangan dengan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya dan Syaikh Maulana Mansur Banten.

Hingga saat ini banyak masyarakat yang datang berziarah ke makam Syekh Ja’far Sidiq yang terletak di Gunung Haruman Cibiuk dan nama Haruman ini kemudian jadi nama lain Syekh Ja’far Sidiq, Sunan Haruman, namun masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Embah Wali Cibiuk.

Menurut riwayat, Syekh Ja’far Sidiq ini bersahabat baik dengan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan dan Syekh Maulana Mansur Banten, bahkan persahabatan Syekh Ja’far Sidiq dengan Syekh Maulana Mansur tergambar jelas dari gaya arsitektur bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Syaikh Ja’far Shiddiq.

Masjid yang sudah beberapa kali mengalami renovasi tersebut diperkirakan sudah berusia lebih dari 400 tahun dan sampai hari ini ‘pataka’ yang terbuat dari ukiran batu dan dipasang di pucuk atap bangunan masjid tersebut masih terlihat utuh.

“Pada saat membangun masjid Agung tersebut Embah Wali mendatangkan arsitek dari Banten, makanya bentuk masjidnya mirip sekali dengan bentuk masjid Banten,” papar Pengurus Dewan Kemakmuran Mesjid (DKM) Syekh Ja’far Shidiq, H. Encep Ahmad Junaedi, Rabu (08/05/2019).

Dikatakannya, masjid tersebut berlokasi beberapa KM dari kaki gunung Haruman, tepatnya di jalan Pesantren Tengah, Desa Cibiuk Tengah, Kecamatan Cibiuk dan masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Masjid Agung, Masjid Keramat atau masjid Embah Wali.

“Syekh Muhammad Ja’far Shidiq Cibiuk ini adalah putera Kyai Mas Mas’ud Dipakusumah dan merupakan generasi ke 8 dari Sunan Pancer Limbangan,” tambahnya.

Menurut Encep, atap masjid ini khas, berbentuk kerucut yang disangga empat tiang kokoh dari kayu jati. Meski sudah berkali-kali direnovasi, tapi bentuk asli atap kerucut ini masih bisa dilihat.

“Karena sudah berusia cukup lama yang berdiri ratusan tahun silam, mesjid ini telah mengalami renovasi pada tahun 70-an,” ujarnya.

Encep menyebut, saat ini bangunan mesjid Mbah Wali juga sudah diperluas dengan cara disambungkan dengan bangunan permanen di belakangnya berukuran 11 x13 meter. Perluasan bangunan dilakukan seiring bertambahnya jumlah penduduk didaerah setempat dengan penambahan bangunan yang memuat lebih dari 200 jemaah.

Namun meski telah direnovasi, terang Encep, secara keseluruhan mesjid peninggalan nenek moyangnya yang merupakan penyebar ajaran Islam pertama di Garut ini dipastikan masih asli. Bahkan di hari-hari tertentu, mesjid ini banyak didatangi warga untuk berziarah dan beribadah.

Encep menuturkan, untuk mengagungkan mesjid bersejarah ini, setiap bulan Ramadan seperti saat ini pengurus mesjid selalu menyelenggarakan pengajian dengan memperdalam kitab-kitab yang dikhususkan bagi para remaja.

“Masyarakat sekitar pun senantiasa menjaga keaslian bangunan mesjid ini karena menghargai nenek moyang. Terlebih dengan banyaknya para peziarah yang jauh-jauh datang berkunjung,” katanya.

Encep menambahkan, hingga saat ini banyak masyarakat yang datang untuk berziarah ke makam Syekh Jafar Sidiq. Makam Mbah Wali Jafar Shidiq sendiri terletak di kaki Gunung Haruman, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk yang lokasinya berjarak sekitar 5 kilometer dari Mesjid Mbah Wali.

Nama Haruman sendiri berasal dari Gunung Haruman, tempat kompleks pemakaman berada. Kompleks pemakaman berada di pinggir Jalan Raya Cibiuk. Untuk mencapai lokasi makam, peziarah membutuhkan sedikit perjuangan dengan menaiki puluhan anak tangga. Jarak dari lokasi parkir ke pemakaman diprkirakan sekitar 200 meter.

Ia menyebut, pada saat-saat tertentu banyak yang datang, seperti dari Bandung, Subang, Jakarta, Cilacap, bahkan dari luar Pulau Jawa. Karena makamnya terletak di Gunung Haruman, maka tak sedikit pula orang yang menyebut Mbah Wali Jafar Shidiq dengan sebutan Sunan Haruman.

Berdasarkan pantuan, konstruksi bangunan Masjid Syekh Ja’far Shidiq yang berbentuk bujur sangkar berukuran 6×6 meter ini masih berdiri kokoh dan konstruksi bangunan yang didominasi oleh kayu jati tersebut berbentuk panggung. Sedangkan bangunan baru yang ada di belakangnya berukuran lebih luas dan sudah menggunakan lantai keramik.

Selain mewariskan masjid, ada juga peninggalan lain dari puteri Syekh Ja’far Shidiq yang bernama Nyimas Siti Fatimah, ia mewariskan resep kuliner Sambel Cibiuk yang sampai hari ini masih terkenal hingga ke beberapa kota besar di Indonesia.

Komentar

News Feed