oleh

Sudah Saatnya Memilih Pemimpin Terbaik Untuk Kita

-News-401 views

Min.co.id-Cirebon-Aroma pemilihan umum kepala daerah sudah mulai tercium. Tanggal perayaan pesta demokrasi akan segera tiba. Tinggal menghitung mundur, menuju detik di mana seluruh elemen masyarakat berpartisipasi dan menyuarakan suaranya.

Menjelang pilkada serentak yang akan diselenggarakan di 171 wilayah, termasuk 17 pemilihan gubernur (pilgub) tanggal 27 Juni 2018 nanti, pelaksaan pilkada sendiri hanya akan dilakukan dengan satu putaran dan tidak ada pemungutan suara ulang terkait dengan perolehan suara.

Kecuali khusus untuk Provinsi DKI yang memiliki aturan berbeda sesuai dengan PKPU Nomor 6 tahun 2016.

Bentuk perayaan demokrasi melalui pemilihan umum ini bukan sebuah proses yang murah memang.

Selain menghabiskan banyak sumber daya termasuk anggaran yang besar. Pesta demokrasi ini menyita fokus masyarakat secara emosional. Mengapa? Karena ini adalah bentuk manifestasi dari minat (interest) dan kepercayaan dari masyarakat (public trust) terhadap calon tertentu.

Di mana ada dua sisi yang saling berkait kelindan. Pertama, para calon pemimpin mulai “berperang” dalam hal strategi, kualifikasi dan pendekatannya kepada masyarakat. Di sisi lain, masyarakat millenial yang memang notabene mulai menaruh perhatian terhadap kehidupan sosial politik pun  jadi semakin aware terhadap hak pilih dan siapa yang akan dipilih mereka.

Nah, tak jarang bukan kita bisa melihat bagaimana proses pendekatan para calon pemimpin rakyat tersebut. Mereka bahkan tak sungkan mendekati para tokoh agama dan menunjukkan keterlibatannya dalam praktek peribadatan di dalamnya.

Misalnya pengajian, shalat berjamaah, silaturahmi lintas agama, berdialektika soal toleransi, dan lain sebagainya. Semua itu tentu saja, dalam rangka mensukseskan agenda perpolitikan mereka.
Tidak jarang di antara kalangan intelektual muslim khususnya yang menentang praktek-praktek politik dan keagamaan. Lantaran agama dianggap sebagai hal yang sangat normatif dan suci.

Tak sedikit juga yang mendukung “perkawinan” politik dan agama. Karena toh tujuannya untuk mencapai visi terbaik di antara keduanya.
Lantas, kita sebagai pemilih, bagaimana caranya mempersiapkan pemilihan umum satu putaran ini? Lalu, karakteristik pemimpin islami seperti apa yang sebenarnya harus kita pilih? Mengingat, kita tidak benar-benar bisa memprediksi bagaimana kepemimpinan mereka selama beberapa tahun mendatang.

Standar seperti apakah yang bisa kita jadikan pedoman untuk memilih salah satu di antara mereka?
Berikut ini mungkin bisa dijadikan rekomendasi bagi para pembaca sekalian.

Pertama, kita sebaiknya memilih calon yang berpendidikan dan memperhatikan pendidikan.

“Education”, kata Nelson Mandela. “Is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Maka ketika kita menilai seorang calon yang terbaik adalah dia yang memiliki sederet gelar akademis. Sebenarnya, gelar panjang tersebut tidak cukup untuk dijadikan bukti bahwa dia mampu merepresentasikan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan.

Tapi kepeduliannya itu bisa kita nilai dari seberapa sering ia mentasbihkan soal pendidikan selama kampanye ataukah tidak. Jika iya, sejauh mana dia peka dan memahami permasalahan pendidikan yang ada. Jika tidak, tentu saja dia tidak benar-benar memahami apa artinya pentingnya pendidikan sebagai proses transformasi sosial.

Kedua, apakah dia memiliki jiwa sosial yang baik ataukah tidak. Lihatlah pada di mana ia tinggal dan bagaimana lingkungan masyarakatnya di sana.

Apakah sejahtera ataukah tidak? Apakah berkembang maju ataukah tidak?! Apakah ia memang kompeten untuk dijadikan sebagai seorang manajer publik di lingkungan yang lebih luas nantinya.

Ketiga, memiliki integritas. Jujur saja tidak cukup untuk menjadi seorang pemimpin publik. Tapi ia juga harus memiliki integritas.

Agar ia memahami betul kepada siapa ia harus berpihak; kepada masyarakat atau kepada para pemangku kepentingan? Jika ia memiliki integritas yang baik, tak mudah baginya untuk goyah dan menyalahgunakan kekuasaannya.

Keempat, peduli terhadap rakyatnya. Seorang pemimpin yang baik adalah dia yang tak mudah goyah saat konflik muncul. Dia tahu siapa yang terlebih dulu memiliki hak atas kepemimpinannya.

Apakah pro-job, pro-poor dan pro-growth. Inilah pertanyaan paling penting yang harus bisa dijabarkan oleh seorang pemimpin. Lihat tujuan, aksi dan bagaimana sikapnya dalam memecahkan masalah public yang ada. Jangan terkesima hanya karena kharismanya saja.

Tapi lihatlah pula kapasitas dan caranya memperdulikan masyarakat sekitarnya.

Kelima, komunikator yang baik. Lihat pada diksi dan penggunaan kata yang digunakannya saat berorasi. Lihat pula pada gayanya menyampaikan ide dan gagasannya. Agar kita tidak mudah tertipu soal kemampuannya membaca teks pidato yang berlembar-lembar panjangnya.

Tapi ini soal caranya menarik perhatian dan hati rakyatnya. Semua itu bisa terbaca meski dengan orasi yang singkat dan padat.

Keenam, jangan memilih pemimpin yang terlihat lemas dan layu. Salah satu hal penting dan rahasia menarik simpati dari lawan bicara adalah pada bagaimana ia berbicara bukan hanya secara lisan tapi juga melalui gesture tubuhnya.

Biasanya, orang yang terlihat lemas dan tak bersemangat, tidak akan benar-benar menarik perhatian rakyat. Lebih tepatnya, masyarakat akan ragu pada kemampuannya untuk menghadapi tekanan. Apalagi posisi sebagai seorang pemimpin publik adalah posisi sentral yang ikut menentukan arah pembangunan nantinya.

Ketujuh, pilih pemimpin yang memiliki pandangan visioner dan transformatif. Ini bisa dengan mudah kita tangkap dari wawasan keilmuan dan pengetahuannya. Di mana dia tidak hanya mempersiapkan kepemimpinannya selama setahun mendatang.

Tapi selama lima tahun ke depan. Apakah visi dan misi yang disampaikannya itu memang layak untuk kita dukung ataukah tidak.
Semoga bermanfaat.

May Ashali – Penulis

Komentar

News Feed