oleh

Mitos Kerajaan Sindangkasih dan Racun Budaya di Mata Pemerhati Sejarah

Toni Ruchiyat Ardhi lebih dikenal dengan sebutan Ki Kamandaka.

Min.co.id, Majalengka – Keberadaan Kerajaan Sindangkasih dan Nyi Rambut Kasih ternyata masih jadi cerita misteri atau mitos bagi pemerhati dan penulis sejarah Majalengka saat berbincang santai di Kota Majalengka, Rabu (6/3/2019).

Toni Ruchiyat Ardhi lebih dikenal dengan sebutan Ki Kamandaka salah seorang yang tergabung dalam kajian sejarah Kalam Prima Institute dengan beberapa buku karangannya
yang diperlihatkan dan catatan-catatan perjalanan dimana Ki Kamandaka selalu mencatat dan merekam hasil perbincangannya dengan beberapa orang tua dan tokoh Majalengka maupun luar kota yang menurutnya pantas untuk jadi narasumber sebuah buku.

Ki Kamandaka sering merasa miris dan sedih terhadap perkembangan cerita sejarah Majalengka yang semakin jauh dari cerita sebenarnya dan belum ada yang berani mengungkap bahwa Kerajaan  Sindangkasih adalah lahir dari mitos yang sangat kental dengan adanya kerajaan Sindangkasih tersebut padahal menurutnya konstruksi sejarahnya sangat lemah.

Bahkan Ki Kamandaka mengatakan kalaupun ada pendapat lain yang lebih kuat mana datanya perlihatkan biar cepat terungkap kebenarannya karena saya sudah mempelajari catatan sejarah Majalengka sedetail mungkin tapi belum menemukan literasi tentang Kerajaan Sindangkasih bahkan catatan pendukung lainnya tidak ada ungkapnya.

Untuk pengenalan yang serderhana saja buat kaum millenial silahkan lihat di nisan yang ada di Majalengka, semuanya belum memperlihatkan keberadaannya untuk mengaitkan kepada sejarah Majalengka misal dari mana asal muasal kata Majalengka dan tahun berdirinya Pemerintahan Majalengka.

Malahan menurut Ki Kamandaka sesuai penemuan dari Grup Madjalengka Baheula (GRUMALA) Bupati pertamanya saja yang ditemukan di Gunungwangi meninggalnya tahun 1853, malahan Bupati Majalengka pertama menjabat tahun 1840 berarti kalau merujuk kesana Majalengka baru berumur 179 tahun ungkapnya.

Dalam catatan pun tidak ada tanda-tanda Kerajaan Sindangkasih, kalau ada sudah pasti tercatat dalam struktural kerajaan. Contohnya Kerajaan Talaga Manggung di tiap kerajaan ada catatan, namun untuk Kerajaan Sindangkasih literasinya tidak ada sama sekali yang mencatat keberadaan Kerajaan Sindangkasih katanya.

Sekarang sudah saatnya generasi muda jangan diracuni lagi tentang sejarah Majalengka yang digulirkan dari cerita mitos, ini sudah ada kajian dari komunitas dan pemerhati sejarah. Majalengka harus sudah membuka sejarah baru dengan hasil temuan dan kajian dimana Majalengka sekarang sudah menjadi kota yang diperhitungkan oleh dunia dengan berdirinya Bandara.

Ki Kamandaka berharap lembaga kajian dan komunitas sejarah yang ada di Majalengka sudah saatnya bersatu untuk kemajuan Majalengka, jangan jadi racun budaya dimana banyak tokoh belum berani bersuara karena dari pemerintah dibiarkan masyarakatnya takut dengan mitos-mitos tersebut.

Ditakutkan mentalitas budaya kurang percaya diri alias lemah mental menjadikan beban sejarah yang lemah mengenai sejarah Majalengka ini terus akan dibawa oleh generasi kedepannya kalau tidak ada yang berani mengungkap sejarah sebenarnya.

Kalau mengacu pada Perbup yang keluar tahun ’82 berapa generasi nantinya yang tidak tahu bahwa sejarah Sindangkasih sampai sekarang masih belum terbukti keberadaan apalagi Kerajaan Sindangkasih bahkan pengetahuan tentang sejarah Majalengka dan para pendidik sendiri banyak yang tidak tahu bahkan sampai ke tingkat pejabat pun banyak yang belum mengetahui lahirnya kota Majalengka.

Ki Kamandaka menginginkan selamatkan generasi muda dari sejarah Majalengka yang tidak pasti dan racun budaya yang berkepanjangan saatnya mengungkap sejarah baru tentang berdirinya Majalengka pungkasnya. (topik)

Komentar

News Feed