oleh

Kisah Hijrah Ugin

-News-62 views

Min.co.id, Majalengka – Setiap orang mempunyai cerita masing-masing tentang proses hijrah dirinya dari kegelapan menuju hidayah Allah SWT.

Misalnya yang di alami oleh Ginar pria asal Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka. Pria yang akrab di panggil Ugin tersebut menceritakan kepada jurnalis min.co.id tentang proses hijrah dirinya menjadi orang yang lebih baik lagi.

Proses hijrah dirinya dimulai pada bulan Ramadhan tahun 1439 H (Tahun 2018 M). Saat itu dirinya sudah merasa jenuh tentang kahidupan gelapnya. Meskipun mendapat kesenangan sesaat namun dirinya tetap merasa gelisah dan ada yang belum lengkap.

Ugin

Setelah itu Ugin mencoba bercerita tentang perasaan yang jenuh dengan kemaksiatan kepada kakak kelas angkatannya Vedi Sumantri yang sebelumnya sudah mulai berhijrah dari dunia gelapnya. Dari cerita Ugin tersebut langsung ditindak lanjuti bersama untuk membentuk Majelis Undergroud Kadipaten Raya (Munkar) dengan mengadakan kajian perdananya dengan tema Remember Death pada awal bulan Mei 2018 di Cafe Abah Kadipaten.

Semua teman-teman dalam dunia gelapnya ikut di undang dalam kajian tersebut. Alhasil anggota genk motor, pecandu, pemabuk, preman dan yang lainnya ikut dalam kajian tersebut. Yang menarik saat penjemputan salah satu pemateri yaitu Habib Ridho di jemput oleh anak-anak genk motor sambil konvoi.

Setelah acara itu sukses dirinya bersama teman-teman yang lainnya mulai merintis untuk membuat tempat pengajian yang diberi nama Duta Hijrah. Duta Hijrah ini dulunya merupakan tempat bilyard yang kemudian di poles/dihias dengan berbagai grafity di dinding yang berbentuk Kaligrafi. Mulai saat itu Ugin mulai hijrah sedikit demi sedikit meninggalkan masa gelapnya.

Di tempat inilah (Duta Hijrah) dirinya bersama yang lainnya mulai belajar mengaji untuk anak jalanan, preman dan lainnya yang ada di sekitar wilayah Kadipaten. Disana juga dilakukan pengajian rutin yang suka di isi oleh Habib Ridho dan Ustadz lainnya.

Ketika awal-awal berhijrah dirinya suka memakai lengan panjang untuk menutupi tato-tato yang ada di tangannya. Kemudian juga dirinya mulai aktif ke Mesjid untuk shalat berjamaah. Namun ketika awalnya saat mau ke mesjid dirinya sempat beberapa kali kembali kerumah karena malu oleh tetangganya yang ada di mesjid. Namun setelah diniatkan kembali akhirnya Ugin memberanikan diri untuk datang ke Mesjid untuk ikut shalat berjamaah.

Respon keluarga sangat mendukung, sedangkan teman dan tetangganya responnya beragam-ragam ada yang mendukung ada juga yang mencibir ada juga yang cuek saja.

Dirinya mengajak kepada yang lainnya agar segera berhijrah sebelum maut itu datang.

“Dulu kita suka maksiat bareng-bareng. Maka saya juga mengajak untuk kebaikan juga harus bareng-bareng, Hidayah Harus Dijemput Bukan Ditunggu,” ajak dirinya (Ndra)

Komentar

News Feed