oleh

Kadisdikpora Probolinggo Copot Kepsek TK Kartika

-News-274 views

Jakarta-Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Kota Probolinggo, Mochammad Maskur resmi mencopot jabatan Kepala Sekolah (Kepsek) TK Kartika. Terhitung mulai 23 Agustus 2018. Hartatik, Kepsek TK Kartika V-69 resmi dipindah tugaskan sebagai staf Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Probolinggo.

Diketahui sebelumnya, dalam peragaan karnaval di Probolinggo beberapa waktu lalu, siswa TK Kartika tampil dengan menggunakan kostum yang tidak biasa. Diantaranya menggunakan pakaian serba tertutup, cadar hitam dan membawa replika senjata.

Penampilan yang tak biasa inipun sempat viral di media sosial. Banyak yang mempertanyakan maksud dari pihak sekolah menampilkan anak-anak dengan kostum yang dianggap ‘radikal’ tersebut.

Setelah melakukan pemeriksaan internal, Disdikpora Kota Probolinggo pun memberikan sanksi tegas kepada Kepsek TK Kartika, yang telah mengambil keputusan tanpa koordinasi dengan dinas ataupun Kodim 0820 selaku pembina lembaga pendidikan anak usia dini itu.

Keputusan Disdikpora inipun menuai apresiasi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan mengatakan, Disdikpora Kota Probolinggo adalah pihak yang paling berwenang melakukan pemeriksaaan dan pembinaan terhadap sekolah-sekolah di wilayahnya, termasuk TK Kartika.

“Apalagi keputusan tersebut sudah melalui mekanisme pemeriksaan internal terhadap pihak sekolah dan Kepala TK Kartika,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/8/2018).

Selain itu, KPAI sangat menyayangkan apa yang ditampilkan dalam karnaval anak-anak tersebut. Retno menuturkan, dari awal KPAI sudah meminta kasus ini jangan di anggap remeh dan sepele. Ia berharap ini menjadi catatan bagi Dinas-Dinas Pendidikan di berbagai daerah dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Apa yang terjadi di TK Kartika ini bisa jadi juga berlangsung di banyak sekolah lain, hanya mungkin tak diketahui publik lantaran tidak viral,” ujar Retno.

“Senjata dan cadar hitam sudah mengarah pada gerakan terorisme, salah satu simbol kekerasan yang seharusnya dijauhkan dari anak-anak. Pendidikan mesti steril dari hal-hal kekerasan seperti itu,” sambungnya.

Retno juga mengingatkan, pendidikan seharusnya mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan, pendidikan juga harusnya mampu menyemai keragaman di negeri yang majemuk ini atau dengan kata lain pendidikan wajib memperkuat nilai-nilai kebangsaan.

“Jika memang ingin mengenalkan nilai kepahlawanan, semestinya pihak sekolah menganjurkan memakai aksesori para pejuang, seperti baju biasa, baju petani, dan bambu runcing,” tukasnya. (Rhm)

Komentar

News Feed