oleh

Polda Jatim Ungkap Produksi Kosmetik Ilegal Asal Kediri

-News-18 views

Jatim-Polda Jatim melalui Subdit Tipidter berhasil mengungkap kasus produksi kosmetik ilegal. Seorang wanita berinisial KIL selaku produsen berhasil diamankan atas pelanggaran tindak pidana kesehatan, yakni memproduksi kosmetik kecantikan merek DSC (Derma Skin Care) Beauty berbagai jenis dan khasiatnya di rumah pelaku di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

“Pelaku menggunakan bahan baku untuk produksi kosmetik DSC Beauty adalah dari produk produk merek terkenal seperti Marcks Beauty Powder, Mustika Ratu, Sabun Papaya, Viva Lotion, Vasseline dan Sriti. Lalu dioplos dan dikemas ulang tanpa izin,” Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Selasa (4/12).

Ia menjelaskan, produk dari merek tersebut dipindah atau dikemas ulang dalam tempat kosong dengan label merek DSC Beauty yang tidak memiliki ijin edar dan tidak terdaftar di BPOM RI.

Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Ahmad Yusep Gunawan menjelaskan, dari hasil produksi itu, tersangka meraup keuntungan fantastis. “Omsetnya sampai Rp 300 juta per bulan. Bisnis ilegal ini sudah dilakukan selama dua tahun,” ungkapnya.

Pelaku juga melakukan jasa promoai endorse lewat beberapa artis melalui media sosail. “Untuk mempromosikan atau mengiklankan kosmetik agar konsumen lebih yakin dan tertarik, tersangka menggunakan endorse dari artis-artis terkenal seperti berinisial VV, NK, NR, DJ, dan KB. Dan artis artis terkenal lainnya kemudian diposting di Instagram,” jelasnya.

Kombes Yusep menegaskan, produk kosmetik ilegal itu bisa dipastikan berbahaya. “Jelas saja berbahaya untuk digunakan. Karena tidak ada izin BPOM. Jadi tidak pernah diujikan,” tuturnya.

Pasal yang dipersangkakan bagi tersangka KIL adalah pasal 197 Jo Pasal 106 ayat (1) UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Sedang kualifikasi pasal, bahwa setiap orang yang sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 ayat (1) dipidana penjara 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar. (afr/s)

Komentar

News Feed