oleh

Gunung Lawu Gundul, Ganjar Perintahkan Wabup Karanganyar Tanam Pohon

-News-17 views

Min.co.id-Karanganyar-Kerusakan lahan di lereng Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar semakin parah. Banyak hutan telah beralih fungsi sebagai lahan pertanian dan juga obyek wisata. Saat tiba di Bukit Mongkrang Desa Gondosuli, Tawangmangu Kabupaten Karanganyar, Rabu (12/2/2020), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tampak terkejut dengan perubahan itu.

“Dulu itu masih hutan belantara. Saya tahu karena saya lahir di sini. Sekarang banyak sekali yang gundul,” kenang Ganjar akan masa kecilnya saat membuka acara penanaman pohon bersama masyarakat dan komunitas di lokasi itu.

Ganjar kemudian memerintahkan Wakil Bupati Karanganyar Rober Christanto, yang mendampinginya dalam acara itu, untuk menggalakkan penanaman pohon. Rober diminta menggandeng perangkat daerah mulai dari camat, lurah hingga ketua RT/RW di Tawangmangu untuk melakukan penanaman pohon di kawasan lereng Gunung Lawu.

“Mulai hari ini sampai Maret, gerakan menanam harus ditingkatkan di kawasan-kawasan ini. Gandeng seluruh masyarakat dan komunitas,” tandas Ganjar.

Selain gerakan menanam, Ganjar meminta kegiatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat harus terus ditingkatkan. Memanfaatkan kearifan lokal, kesadaran untuk peduli lingkungan harus terus ditumbuhkan.

“Saya usul supaya setiap anak yang lahir di Lawu, orang tuanya wajib tanam pohon. Kalau ada masyarakat minta surat keterangan kepada RT/RW, syaratnya tanam pohon. Ada yang mau menikah, naik jabatan, syaratnya harus tanam pohon. Kalau mau menikah dua kali, tanamnya dua hektar,” usul Ganjar disambut tawa masyarakat.

Ketua Relawan Gunung Lawu Giyatno mengatakan, kondisi lereng Gunung Lawu saat ini sudah sangat memprihatinkan. Dia sepakat dengan Ganjar, selain menanam pohon, edukasi kepada masyarakat adalah poin utama.

“Sebab yang memanfaatkan lahan itu masyarakat, selama ini mereka menebang pohon untuk memanfaatkan lahan. Jadi, sosialisasi dan edukasi harus ditingkatkan. Kalau bisa, pohon yang ditanam juga yang bermitos misalnya beringin, pereh, bulu. Sehingga, masyarakat takut untuk menebang,” ujar Giyatno. (red/humasjateng)

Komentar

News Feed