oleh

Islam Menghapus Duka Pekerja Migran di Tengah Pandemi Covid-19

-Opini-56 views

Min.co.id-Majalengka-Puluhan tokoh berbagai komunitas dari perwakilan 14 Kabupaten/Kota di Jawa Barat mengikuti Seminar Online bertajuk “Islam Menghapus Duka Pekerja Migran di Tengah Pandemi Covid-19”. Seminar yang diselenggarakan oleh Forum Tokoh Muslimah Cirebon Raya ini berlangsung pada Kamis (9/7/2020) dari pukul 09.00-12.00 WIB melalui aplikasi zoom meeting. Seminar menghadirkan dua narasumber, yaitu Ibu Darwinah, S.Pd.I. (Pengusaha & Aktivis Keluarga Migran Indonesia) dan Ibu Ustazah Hj. Ummu Aiman (Pemerhati Perempuan, Keluarga, dan Kebijakan Publik).

Seminar ini diselenggarakan dalam rangka menyikapi berbagai derita Pekerja Migran Indonesia (PMI), terlebih di masa pandemi Covid-19, serta mencari solusi tuntas untuk mengakhiri berbagai derita PMI. Tahun 2019, tercatat Pekerja Migran Indonesia telah menyumbangkan devisa hingga Rp159,6 triliun. Namun tak henti, penderitaan terus dialami para pejuang devisa tersebut, termasuk para pekerja migran perempuan. Terlebih-lebih penderitaan kian bertambah di tengah wabah pandemi Covid-19 ini.

Darwinah memaparkan berbagai penderitaan yang dialami Pekerja Migran Indonesia. Diantara penderitaan itu adalah tidak mendapat waktu istirahat yang cukup, mengalami kekerasan (fisik/verbal/seksual), gaji tidak dibayar, tidak diberikan perawatan kesehatan, tidak diperbolehkan keluar rumah dan semua dokumen pribadinya disita majikan, dipekerjakan pada beberapa majikan (tidak sesuai perjanjian), tidak diijinkan ibadah sesuai keyakinan, bahkan dipaksa minum alkohol atau obat-obatan terlarang, hingga meninggal dunia karena berbagai sebab.

Duka Pekerja Migran Indonesia di masa pandemi Covid-19 pun kian bertambah. Mereka rentan terpapar virus Covid-19, distigma sebagai pembawa virus, mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), ketakutan melaporkan kondisi kesehatan karena khawatir ditangkap aparat keamanan akibat bekerja secara illegal, bekerja ekstra tanpa diberikan insentif, mengalami kelaparan, hingga pengusiran, ujar Darwinah.

Narasumber kedua, Ummu Aiman menjelaskan bahwa penyebab dari penderitaan buruh migran yang terus terjadi terlebih di tengah pandemi adalah potret buram penjara Kapitalisme. Kemiskinan yang diciptakan oleh sistem ini menjadi alasan utama mereka mencari pekerjaan ke luar negeri. Kebebasan yang ditawarkan Kapitalisme membuat para pekerja bebas untuk dieksploitasi oleh majikan. Paham ini pun terus menciptakan kekerasan terhadap pekerja, baik kekerasan verbal, fisik, kutural, dan struktural. Di samping itu, adanya pemahaman berbahaya berupa ide feminisme yang terus ditanamkan di benak perempuan.

Menurut Ummu Aiman, racun Kapitalisme ini telah mengubah cara berpikir umat di berbagai level. Pada individu, membentuk pandangan bahwa wanita harus bekerja seraya tidak ragu mengorbankan peran utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Pada sisi majikan, terbentuk sikap diktatorisme terhadap para pekerja, memberi upah minimum tanpa memperhatikan dampak pada pekerja, mencari keuntungan dari derita kemanusiaan. Kapitalisme ini membentuk masyarakat individualistik-oportunistik. Masyarakat yang tidak peduli terhadap nasib sesama karena selalu mencari celah untuk kepentingan pribadi semata.

Negara tak berdaya untuk menyejahterakan rakyatnya di dalam negeri, sekaligus abai terhadap hak-hak pekerja yang mereka kirim ke luar negeri layaknya komoditas demi sekedar angka remitansi ekonomi. Selama sistem ini diterapkan, maka kaum perempuan akan terus menjadi korban perburuhan Kapitalisme yang zalim.

Walhasil, berharap pada Kapitalisme dalam memutus derita Pekerja Migran Indonesia hanyalah harapan kosong. Kita perlu beranjak pada solusi baru, yakni solusi yang ditawarkan Islam. Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur segala persoalan, termasuk masalah ketenagakerjaan dan jaminan pemenuhan kebutuhan hidup manusia sehingga bisa hidup sejahtera. Islam sebagai ideologi, menentang keras nilai-nilai materialisme, hedonisme yang berasal dari pandangan hidup Kapitalisme.

Masyarakat Islam adalah masyarakat yang dibangun berdasarkan ideologi Islam yang memiliki fokus utama pada misi penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah. Di dalam Islam, posisi dan peran perempuan begitu dilindungi dan dimuliakan. Namun semua itu tidak akan terealisasi tanpa peran negara. Karenanya, Islam is the one and only solution, haruslah diemban oleh sebuah negara yang menerapkan syariat Islam kaffah, papar Ummu Aiman.

Dalam sesi diskusi, antusiasme peserta ikut mewarnai seminar ini dengan beragam pertanyaan. Seminar ditutup dengan testimoni dari perwakilan peserta. Harapan salah satu peserta dalam testimoninya adalah problem Pekerja Migran Indonesia ini tuntas hingga ke akar-akarnya melalui penerapan sistem Islam yang telah terbukti ribuan tahun memberikan jaminan kehidupan sejahtera dan solusi bagi segala persoalan umat manusia.

Pengirim:
Dwi P Sugiarti

Komentar

News Feed