oleh

Min.co.id-Jateng-Tari Bambangan Cakil, yang mengisahkan perang antara raksasa Buta Cakil dan ksatria, membuka penampilan Wayang Orang Ngesti Pandawa di Panggung Kahanan #3 ‘Mositifi Covid’, di Rumah Dinas Gubernur Jateng, Kota Semarang, Jumat (8/5/2020).

Belum juga merampungkan tarian, tokoh Gareng menyela kedua lakon pendahulu. Suasana yang semula tegang, didukung dengan tepak kendang yang bertempo cepat, berubah menjadi santai. Beberapa kali, percakapan antara Gareng dan Buta Cakil mengundang tawa para wartawan yang tengah meliput acara tersebut.

“_Kowe kuwi mesti bangsa corona? Ora ana buta kok ning lapangan tenis. Sing iso ning ngendi-ngendi ki mung corona_. (Kamu itu pasti bangsa corona. Tidak ada raksasa di lapangan tenis. Yang bisa ada di mana-mana hanya corona),” ujar lakon Gareng pada Buta Cakil.

“_Corona kuwi apa? Ning negaraku ora ana corona. Lha sing ngejak aku mrene kan kowe_. (Corona itu apa? Di negaraku tidak ada corona. Yang ngajak aku ke sini kan kamu),” jawab Buta Cakil.

Kedua lakon ini lanjut berdebat tentang masker. Gareng menyinggung Buta Cakil yang tidak memakai masker dan justru menampilkan giginya. “_Iki angger konangan pimpinanku dewe bakal bubar jalan lho iki. Nek arep main ning kene syarate kudu nganggo masker_. (Ini kalau ketahuan pimpinan saya kita bisa dibubarkan. Kalau mau pentas di sini syaratnya harus pakai masker),” kata Gareng.

Melihat Buta Cakil yang ngeyel tak mau pakai masker, Gareng pun meminta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk masuk ke arena pentas dan menasehati lawan mainnya itu.

“_Piye, nek ra gelem nganggo masker jaluk diapake?_ (Gimana, kalau tidak mau pakai masker minta dikenai sanksi apa?),” tanya Ganjar yang memainkan lakon Petruk.

Gareng yang semula mendorong Ganjar untuk menasehati Buta Cakil justru berbalik membela si raksasa. “_Ampun to pak, golek Cakil sak niki angel merga liyane pun dipateni karo Bambangan. Sing cilik-cilik dereng mentas_. (Jangan dihukum, pak. Cari tokoh Buta Cakil sekarang susah karena tokoh lainnya sudah dibunuh ksatria. Yang anak-anak belum matang untuk jadi peran Cakil),” bela Gareng yang disambut tawa para penonton.

Itulah sekelumit percakapan antara seniman Ngesti Pandawa dengan Ganjar, yang mengangkat isu terkini tentang wabah covid-19 dan dampaknya kepada masyarakat, tak terkecuali para seniman lokal. Akting para seniman yang alami tanpa kesan dibuat-buat membuat para penonton, termasuk Ganjar, tertawa terbahak-bahak.

Di panggung itu, para seniman pun mengungkapkan kesulitan mereka setelah covid-19 mewabah. “Biasanya setiap pentas seminggu sekali kami dibayar Rp 50 ribu. Sekarang karena ada larangan membuat kerumunan, kami kehilangan pemasukan. Tapi yang paling nggrantes, kami, seniman, tidak bisa menyalurkan emosi. Baru di panggung ini kami bisa menyalurkan emosi,” ungkap Gareng.

Pertunjukan wayang orang itu pun diakhiri dengan Gareng yang membunuh Buta Cakil dengan semprotan disinfektan.

Selain seniman dari Ngesti Pandawa, Panggung Kahanan edisi ketiga ini juga diisi penampilan Teater Matajiwa yang mempertunjukkan monolog berjudul Masmirah, dan Bohemian Band yang membawakan lagu-lagu _country_.

Panggung Kahanan digelar tiga kali seminggu, tiap Senin, Rabu, dan Jumat, selama ramadhan.

Penonton acara ini dibatasi. Para penampil dan tim peliputan yang menyaksikan acara ini pun diwajibkan mengikuti protokol kesehatan untuk mencegah persebaran virus corona, antara lain, mencuci tangan sebelum masuk lokasi panggung, memakai masker, dan duduk di kursi yang sudah diatur jaraknya minimal satu meter.

Bagi penonton yang tidak bisa datang dapat tetap menyaksikan aksi para seniman melalui channel YouTube dan akun Facebook Ganjar Pranowo.(rls)

Komentar

News Feed