oleh

Seni Tradisi ‘Sintren’ Konon Terdapat Dibeberapa Daerah

Min.co.id-Indramayu-Di Indramayu ada seni sintrén. Tetapi, tampaknya bukan hanya di Indramayu. Sintrén juga ada di wilayah utara Subang, utara Majalengka, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Banyumas, bahkan juga Cilacap. Adakah itu berasal dari wilayah kultur Jawa Kuna?

Ciri khas sintren: penari berkacamata hitam, properti kurungan ayam, asap dupa, bunga-bunga, dan tembang-tembang, yang konon mengandung aura mistis.

Turun-turun sintrén

Sintréné widadari

Nemu kembang yun ayunan

Nemu kembang yun ayunan

Kembangé siti maindra

Widadari temuruna

Tembang tersebut mengalun ketika seorang gadis yang menjadi sintren sudah masuk kurungan dalam keadaan diikat tangan, kaki, dan tubuhnya. Busananya biasa-biasa saja, sebagaimana keseharian. Alunan tembang terus-menerus, bunyi-bunyian perkusi buyung dan bambu mengiringi, asap dupa mengepul dan beraroma pekat.

Di area sekitar kurungan, para penari lain mengiringi gerak suara perkusi. Seorang laki-laki yang disebut mundalang (pawang) komat-kamit membacakan mantra.

Ketika kurungan dibuka: gadis yang biasa-biasa saja tersebut sudah menjelma menjadi seorang bidadari. Berkebaya, berkain, berselendang, rambut terurai, dan berkacamata hitam. Cantik seperti bidadari.

Ia duduk bersimpuh. Wajah tanpa ekspresi. Tembang-tembang makin mengalun dengan tema yang lain. Bidadari itu berrgerak. Berdiri. Menari di tempat. Tanpa ekspresi.

Konon, di Indramayu seni sintren dikaitkan sebagai ‘sandi’ untuk mengumpulkan para pejuang melawan penjajah Belanda. Seperti kata Bapak Warnali. Konon lagi, seni tersebut dibawa abdi dalem Diponegoro, yakni P. Seca Branti yang menyamar di dalam pelarian.

Di Indramayu dibuatlah sintren untuk mengumpulkan para pemuda yang dilatih berbagai ilmu. Sehingga ada ungkapan sintren itu ‘sinyo trenen’ (pemuda yang berlatih). Berbagai aksesoris dan tembangnya menunjukkan kerahasiaan, perjuangan, sekaligus penderitaan.

Tetapi konon pula, ada yang mengartikan ‘sinatria’ yang menjadi asal-usul kata sintren. Ada lagi yang mengartikan ‘si putri’ (si tren).

Di Jateng ada dongeng rakyat tentang Rd. Bahureksa yang beristri Nyi Rantamsari. Mereka memiliki putra, Rd. Sulandono. Putra tersebut memiliki kekasih, Sulasih. Tetapi sang ayah melarang hubungan tersebut. Hingga di kemudian hari kedua orang tua itu meninggal.

Sulasih ternyata juga banyak dikagumi pemuda lain. Pada suatu peristiwa terjadi ‘perebutan’. Sulandono kalah, tetapi ia diselamatkan roh ibunya. Ia diperintah untuk bertapa dan diberi sapu tangan.

Pada waktu yang lain ada acara bersih desa di malam purnama. Ternyata Sulasih mampu menari. Saat itu Sulandono dibangunkan roh ibunya agar segera ke acara tersebut. Ketika sampai, segera Sulandono melempar Sulasih dengan saputangan. Sulasih pingsan seketika. Kesempatan itu digunakan Sulandono untuk menggendong Sulasih, dan pergi untuk bersatu.

Ternyata versi lain juga ada. Prof. Jakob Sumardjo mengaitkan kata sintren sebagai ‘tantra’, ‘stuti tantra’ (nyanyian tantra). Bukan sistem kepercayaan, bukan filsafat. Tetapi metode/cara. Dipraktikkan agama Hindu Siwa, juga salah satu aliran Buddha.

Kata kunci seni tersebut terdapat kembang, widadari, siti maindra, wijaya indra, sintren. Dalam sintren ada penyatuan manusia dengan kekuatan yang dipujanya. Terjadi ‘trance’ sebagai kondisi menyatu dengan bidadari yang turun.

Mungkin itu pula ada tembang: tongtong breng / ana menyan abang ireng / balé-balé upi / ana menyan abang putih / bonga-bangi rubuh / rubuh ditangisi / ana tangis nglayung-layung / tangisé wong wedi mati / sapa sira sing ngélingaken / yén dudu pengéranira / gendung éling-éling // solasi, solasi, solandana / ana menyan ngundang déwa / déwané déning sukma / sukmané widadari / widadari temuruna …..

Sekarang adakah kesakralan itu?

Konon, kini untuk hiburan beraroma seperti mistis belaka. Menghibur acara hajat khitanan, atau adat desa. Bahkan ada juga yang memberi nama grup Sintren Dangdut.  Sehingga ada pula tembang begini:

Kembang kingkong

Sabun wangi buntel godong

Wulané wis mencorong

Sintrén metu géol bokong

Sintrén memang sejak era dulu hingga kini, zaman yang melintasi ruang religi, metode, kultur, sosial, hingga hiburan. (supali kasim)***

Komentar

News Feed